Kami sedang mengamati bagaimana kehidupan kerang yang sepertinya terancam kepunahan
foto-foto ini adalah bukti kepedulian kita terhadap lingkungan. save our sea!
Dodi Prananda, lahir di Padang 16 Oktober 1993. Studi di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Menulis satu buku kumpulan puisi dan puluhan antologi bersama. Folllow: @pranandadodi dan Kunjungi: www.dodiprananda.wordpress.com

Goresan Buat Bapak Pembangunan
:Soeharto
ku panggil beliau bapak pembangunan
hantarkan negara jadikan sebuah pengorbanan
belum lagi esok akan menjelang dan kabarkan tentang arti jadi pahlawan
warna hitam legam jadikan pedoman,tak tersebut!
biar torehkan keinginan majukan impian
sebuah negeri khaylan buat jadi negara terdepan
oi, wahai semua pemimpi
belum lagi kau dengarkan elegi siang tadi
kabarkan dan ceritakan kenangan tentang dia bapak pembangunan
tepat tanggal di ahad bulan januari
sukma melayang dan haturkan rasa penyesalan
saat kau ingat tentang kesalahan beliau dan lupakan coretan kusam
legam
dan yakinkan tangan tuk tetap tengadah
wahai
2008

Buku kumpulan puisi remaja
“Ku Tulis Namamu Di Hatiku”
Oleh Dodi Prananda

“One thousand story about
Love…..

Love……, it never ending!!”
“Cintaku merangkak dalam gelap”
Cintaku merangkak dalam gelap yang sunyi
Wajahmu samar dari sini
Entah, benarkah engkau yang berada di
Ataukah hanya bayanganmu semata yang bermain di benakku??
Aku tahu kau bukan sedang tersenyum
Sebab dalam dadaku
Tangismu terdengar begitu pilu
Sesak dan terisak-isak
Aku pura-pura tak tahu dengan wajahmu juga dengan tangismu
Sebab tangismu itu, adalah tangis cengeng yang sengaja kau buat
Agar cintaku bisa menjelma menjadi sebuah dilema
Cintaku merangkak dalam gelap temaram
Sekelabat bayanganmu sirna
Kau menangis lagi, nangis sambil tertawa!!
Sedang batinmu tak bisa bohong
Karena sesungguhnya kita adalah keabadian
Cintaku merangkak dalam cahaya samar….
“Nada-nada cinta di jantungmu”
Berisik!!
Tubuhmu sedang bicara sambil berdendang
Kau sibuk memetik jantungmu
Untuk mengudang nada-nada merdu nan syahdu
Ataukah kau benar sedang bicara dengan langit malam itu??
Sebab kau hari ini melayang –layang
Dan terjatuh dalam cinta
Ya…..jatuh cinta! Bisikmu pada aku di malam itu
Sungguh indah jiwamu
Mulutmu lagi-lagi komat-kamit menghafal nada-nada cinta
Nada-nada cinta yang ada di jantungmu
Kupingmu sedang nari-nari kecil
Berdansa dengan matamu yang sedang meniup-niup seruling cinta itu
Begitu indah jiwamu menuju jalan cinta yang kau dambakan
Inikah makna cinta yang kau tanyakan??
“Nyanyian kerinduan”
Pengap!! Hari ini terasa begitu pengap
Melihat burung lunglai, letih menatap pada
Kehidupan yang menyengsarakan
Masih juga sayup
Nafasmu yang tiap hari mendendangkan nyanyian kerinduan
Dengan suara parau
Menyanyikan untuk kerinduan yang selama ini menyengsarakan
Kerinduan yang bernadi
Mengingat ibumu yang hanyut bersama tangis aceh
Mengenang bapakmu yang kemaren mati di hutan
Sungguh, kau masih menyanyikan nyanyian kerinduan itu
Entah sampai kapan??


KONTRIBUSI KITA UNTUK NEGARA
Oleh Dodi Prananda
Sebuah kalimat mengatakan bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”
Barangkali banyak kontribusi yang dapat kita sumbangkan sebagai bangsa yang peduli akan negaranya sendiri. Salah satunya memberikan sebuah rasa apresiasi pada pahlawan terdahulu yang mana telah membangkitkan negara ini sampai kemasa sekarang. Lantas kita sebagai penerus tongkat estafet bangsa atau negaranya harus melanjutkan perjuangan tongkat itu. Semua tergantung generasi bangsa itu sendiri, apakah genrusnya akan diam tanpa melakkan apa-apa sebagai kontribusi untuk negaranya. Atau barangkali akan memberikan semacam apresiasi terhadap pahlawannya.
Kita seringkali menanyakan apa yang telah diberikan negara kepada kita tanpa pernah mempertanyakan apa yang telah kita kontribusikan untuk negara kita. Sebenarnya banyak hal yang dapat kita sumbangkan sebagai warga negara yang baik, peduli akan kondisi negaranya. Kita harus memulai sesuatu yang kita kontribusikan kepada negara dari nol. Namun kita sering kali menghapus kata-kata tersebut ketika diadakannya upacara bendera.
Hal yang konkret, tidak banyak pelajar yang serius mengikuti upacara bendera. Khusus ketika mengheningkan cipta, tidak jarang kita temukan pelajar yang tetap tertawa di saat Pembina upacara menyuruh untuk mengheningkan cipta. Sebagai orang yang menghargai jasa pahlawannya sudah sepatutnya kita mendoakan arwah para pejuang kemerdekaan di saat mengheningkan cipta dalam upacara bendera.
Di bawah beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai wujud kontribusi kita untuk negara yakni, mengejar ilmu sebaik dan sebanyak mungkin sampai kapan pun, menguasai bahasa asing agar dapat menimba ilmu dari negara lain, menularkan kebiasaan belajar ke anak-anak kita(bagi yang sudah mempunyai anak) untuk masa depan yang lebih baik karena tuntutan persaingan akan semakin tinggi, kita bisa membuat kursus gratis 1 minggu sekali atau lebih untuk anak-anak di sekitar rumah, bisa mengaji, bahasa Inggris, komputer, atau bahkan menari, menyanyi, menjahit, atau apa pun yang kita bias.
Selan itu kita juga bisa membuka lapangan pekerjaan untuk mengurangi pengangguran di negara kita ini. Mencintai produk dalam negeri pun barangkali bisa disebut sebagai kontribusi kita terhadap negara, karena dengan menggunakan barang atau produk dalam negeri menunjukkan rasa cinta tanah air.
Uraian diatas dapat menjelaskan bahwa banyak sebetulnya apa yang dapat kita lakukan sebagai bangsa besar. Sekarang kita tingal bertanya pada diri apa yang telah kita perbuat untuk bangsa negara sendiri, sedangkan kita bercita-cita ingin menjadi orang yang berguna untuk bangsa dan negara. Setelah itu duduklah dengan tenang diteruskan dengan melakukan sebuah perenungan, apa yang telah kita perbuat untuk negara?, apa yang akan terjadi kalau bangsa negaranya sendiri tidak melakukan apa-apa untuk negaranya?, dan yang terakhir, apa yang akan terjadi pada Indonesia lima atau sepuluh tahun lagi kalau bangsanya Cuma berani ribut tawuran?. Jawabannya ada diri kita masing-masing. Kuncinya satu, maukan kita menjadi bangsa besar yang memberikan kontribusi untuk negaranya?. ***

KUPU-KUPU
Oleh Dodi Prananda
Aku hanya diam melihat kupu-kupuku terluka. Hening. Tak ada suara yang mengalir dari mulut kupuku. Aku sudah mengatakan akan memberikan kupuku sayap, sayap yang membuat ia dapat terbang dari satu ilalang menuju bunga-bunga yang kuncup. Ia akan membuat mekar.
“Aku sudah kehilangan sayapku. Aku tak tahu dengan apa aku akan terbang lagi menggapai impianku untuk jadi kupu-kupu” ucapnya pelan dengan suara agak parau.
“Tidak kupuku, Aku akan memberikan sayap buatmu biar kamu bisa jadi kupu-kupu lagi” ucapku menenangkannya.
Gadis itu menatap wajahku. Aku tahu ia sedang memendam rasa yang amat sangat menyakitkan. Ia tak hentinya memandang lehernya yang sedang di pasangkan Gip, juga pada kursi roda yang setia menemaninya.
Helena- gadis itu- meraih kaca solek yang berada tepat di sampingnya. Ia memandang wajahnya yang lecet karena luka bakar. Meskipun tatapannya nanar, tetap saja sebening kristal yang terlalu pahit untuk di teteskan akhirnya menetes juga.
Tak ada satupun yang bisa di harapkan Helena. Ia tahu tak ada lagi kesempatan kedua baginya untuk dapat lagi menjadi selebritis. Siapa yang tak kenal ia coba? Seorang bintang yang memiliki aura dan aku yakin tak ada indah seperti dirinya.
Tapi sekarang semua sudah menjadi hambar. Helena merasa ia telah kehilangan rasa untuk menggapai semuanya lagi. Tak akan ada lagi yang mau menatap wajahnya yang hancur berantakan. Padahal dulu, wajahnya yang cantik itu sering menghias kaca televisi.
Ya, semua itu telah di rampas oleh kecelakaan itu. Kecelakaan yang tak pernah sebelumnya terfikirkan. Malam terkutuk itu adalah mimpi buruk bagi Helena.
Seandainya saja Helena menuruti perkataan orang tuanya pasti semua tak akan hancur berantakan seperti ini. Padahal mama Helena telah mengingatkan Helena untuk tidak mengikuti show malam itu.
“Len, sebaiknya kau tak usah datang ke show itu, toh hari juga udah malam. Nggak baik kalau wanita pergi malam-malam. Len, mama punya firasat tidak enak” ucap mama Helena sebelum Helena mengalami kecelakaan maut itu.
“Ma, aku tidak bisa menolak pada produsernya. Lagian, aku kan nyari duit! Kenapa mama melarang?”
“Len, mencari nafkah itu bukan kewajiban kamu sayang!” mama masih ngedumel.
“Mama ini cerewet sekali!” Helena masih membantah. Ia tetap dengan pendiriannya untuk datang dan menghadiri show itu.
Kalau mengingat kejadian itu ingin rasanya Helena meminta Tuhan untuk memutar waktu kembali. Pasti ia tak akan menolak permintaan mamanya untuk datang ke Show itu agar semua tak jadi kacau seperti ini. Hidupnya terasa hambar. Tak ada yang bisa di harapkan Helena, selain duduk dengan tatapan kosong di kursi rodanya.
“Len, kamu harus ingat kalau Life Must Go On! Kan kamu yang bilang ke aku seperti itu. Kamu masih ingatkan?” aku masih berusaha membujuknya.
Dia masih bungkam dan menguci mulutnya. Hanya bola matanya saja yang menatapku. Suaranya tak keluar untuk menjawab pertanyaanku. Sejenak ia merasakan dirinya tertegun.
“Terlambat! Terlambat! Semua sudah terlambat. Tidak mungkin aku masih tetap bertuah pada kata-kata itu” balasnya
“Kamu harus janji padaku kalau kamu ingin jadi kupu-kupu lagi. Meski sekarang kamu tidak ada sayap buat terbang, tapi aku akan ajarkan kamu terbang ke angkasa sana untuk jadi bintang lagi. Kamu pasti bisa menjadi kupu-kupu yang terbang tanpa sayap” balasku.
“Without wings?? However can I do?”
“I’m promise, I’ll give my wings for you. You will can fly again. You must believe it!” ucapku sambil menyeka air matanya. Kemudian kudorong kursi rodanya ke kamar. Mama Helena hanya menatap sekilas dengan mata berkaca-kaca. Ia tak kuasa melihat anaknya terdiam membisu seperti itu.
Aku biarkan Helena sendiri di kamarnya. Aku pulang tertikam kata-kata yang di lontarkan Helena tadi. Terlintas harapan di benakku dan sebuah keyakinan yang mengatakan kalau Helena masih bisa bermain di taman surganya, jadi kupu-kupu yang bisa terbang tanpa sayap. Meskipun ia telah kehilangan kedua belah sayapnya. Ia pasti masih bisa melihat wajah cantiknya yang hadir di layar televisi.
Aku masih bisu. Jiwaku terbelenggu untuk dapat meyakinkan Helena kalau ia masih punya semangat untuk menatap hari-harinya. Aku berusaha untuk meyakinkan kalau Helena bisa terbang tanpa sayap. Terbang untuk menjadi bintang lagi ke angkasa. Jadi kupu-kupu tak bersayap. Ya ...! Sekian.
“Padang, pertengahan Desember 2007.
*NB Cerpen ini telah di publikasikan di Singgalang pada kolom cerpen kamu SMS