Minggu, 22 Maret 2009

OPRAH




Cinta Negeri, Mulailah Dengan Cinta Produk Dalam Negeri

Oleh: Dodi Prananda, SMAN 1 Padang


Rasa Nasionalisme tidak hanya diaplikasikan dengan memberikan kontribusi kita kepada negara disamping mencintai profesi, namun juga bisa dilakukan dengan mencintai produk dalam negeri. Menyebut-nyebut kata “cinta produk dalam negeri”, akan menjadi sebuah obrolan yang hangat berikut menarik, mengingat kondisi riil di negara kita yang semakin banyak menjamur produk impor luar negeri.
Tidak bisa dipungkiri, bekakangan ini barang-barang tersebut juga semakin ramai di mata kita maksudnya di persaingan pasar Indonesia. Tidak hanya barang-barang tapi juga makanan atau minuman, produk yang bermerk-an nama yang asing dan susah melafaskannya. Sebut saja salah satu produk luar yang menjadi hobi “orang kita” untuk menkonsumsinya, Kentucky Fried Chicken yang akrab disebut dengan singkatan “KFC”, seolah-olah sudah jadi mendarah daging bagi kita. Kenapa tidak, makanan tersebut acap kali kita jadikan sebagai makanan favorit.
Bagaimana jika produk KFC disandingkan dengan produk yang sama seperti yang dijual oleh produksi rumahan yang ada di negeri kita, atau dengan produksi asli Indonesia, pasti terkalahkan dan ketinggalan jauh oleh KFC.

Yang bangga dengan produk luar
Membicarakan fenomena ini saya jadi teringat dengan teman sekolah menengah pertama saya yang sering dan senang sekali menggunakan atau mengkonsumsi produk luar negeri. Ketika ia memamerkan barang atau produksi luar negeri tersebut ia menjadi bangga sendiri di depan teman-temannya. Bahkan dengan percaya diri dan sombongnya ia mengejek teman yang tidak bisa memiliki produk seperti dia. Ia sering kali memamerkan tulisan yang ada di bagian atas kaos yang ia beli di luar negeri. “Made in Singapore”, “Made in USA”, “Made in Thailand”, itu yang sering ia banggakan di depan teman-temannya. Lalu teman-temannya yang hanya ada tulisan “Made in Indonesia”, “Made in Bandung” langsung tutup mulut mendengar ucapannya. Kenapa timbul rasa bangga dihati teman saya itu (tidak hanya teman saya tapi juga orang kebanyakan) yang menggunakan produk luar negeri itu? Kenapa ia lebih bangga ketika menggunakan kaos bermerk “Quick Silver”, “Oakley”, “Volcom”, “Roxy”, “Rusty” “Rip Curl”,“Billabong”, “Lea”, dan yang lainnya? Banyak jawaban atas fenomena ini.

Yang bangga dengan produk dalam negeri
Mungkin tidak semua orang yang seperti teman saya sebutkan diatas. Ada pula orang yang malah sebaliknya, ia merindukan produk dalam negerinya sendiri ketika ia berada di negeri orang. Itu artinya ia mencintai negerinya. Ada rasa nasionalisme yang tumbuh dalam dirinya. Barangkali dengan cara itu menimbulkan kesenangan batin dalam dirinya sebagai seseorang yang dilahirkan di negeri Indonesia ini.
Untuk orang seperti ini jusrtru beranggapan positif bahwa dengan membeli dan menggunakan produk atau barang-barang bermerk “Made in Indonesia” berarti secara tidak langsung ia telah ikut memajukan kesuksesan produk negerinya sendiri. Bahkan ada yang bangga ataupun kagum di luar negeri sana ketika orang Indonesia menggunakan produknya sendiri.

Gengsi dengan produk dalam negeri, benarkah?
Ketika dilontarkan pertanyaan kenapa orang lebih tertarik dan senang dengan produk luar negeri, salah satu jawabannya adalah gengsi, ya, gengsi. Banyak yang menyatakan bahwa produk dalam negeri itu sangat jauh ketinggalan dengan negara yang maju seperti Amerika yang selalu mengkoar-koarkan karya anak bangsanya, Jepang yang selalu memamerkan tekonologi canggih racikannya, ataupun Cina yang selalu hadir dengan seribu satu dan pelbagai macam karyanya yang dijual dipasaran Indonesia. Satu hal yang sangat menentukan kenapa orang cendrung kepada produk luar itu yakni masalah kualitas. Benar sekali, kualitas.
Seperti teman saya tadi, ketika saya tanya kenapa tidak mencoba untuk membeli baju produk dalam negeri atau mencoba untuk mencicipi makanan asli Indonesia, jawabannya sama, kualitas. Katanya baju yang diproduksi di Indonesia jauh tertinggal kualitasnya. Beda halnya ketika ia menggunakan baju luar yang nyaman digunakan, tahan lama dan banyak lagi keunggulannya. Lalu saya kembali berkomentar, toh kan baju Indonesia lebih murah, kalau baju luar harganya tiga bahkan lima kali lipat dari harga baju Indonesia. Lagi-lagi teman saya itu menjawab delapan huruf itu, “kualitas”.
Kenyataannya memang seperti itu, banyak yang gengsi dengan hasil tangan negerinya sendiri. Sebenarnya lewat nasionalisme atau cinta negeri dengan menggunakan produk dalam negeri adalah salah satu cara untuk meningkatkan gengsi kita, malah sebaliknya yaitu meningkatkan gengsi, bukan membuat kita gengsi dalam menggunakan produk dalam negeri itu. Bahkan di resesi global yang mana pasar ekonomi Indonesia dibanjiri oleh produk luar harus kita jadikan sebagai kekuatan untuk dapat terus menggali ide-ide kreatif negeri kita, dan banyak hal lagi.
Alangkah baiknya kita bersyukur karena Indonesia merupakan negeri yang sangat kaya raya dengan sumber daya alam dan manusianya. Nah, untuk memulai langkah awal bagi kemajuan Indonesia terutama dalam produksinya sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk cinta pada negeri, dan memulainya dengan cinta produk dalam negeri. www.dodiprananda.blogspot.com

Padang, 2009
Penulis bergiat di Yayasan Citra Budaya Sumbar, Sanggar Pelangi Padang

UNLUCKY

ABSTRAK

Dilatarbelakangi dan bertolak dari keadaan lingkungan yang semakin terkurung dalam pencemaran lingkungan, membuat penulis tertarik menguraikannya dalam karya ilmiah ini. Bisa kita lihat sendiri bagaimana keadaan konkret daerah perkotaan, dimana beribu-ribu kendaran seolah-olah telah memuntahkan asapnya yang seenak perutnya saja mengotori udara. Belum lagi sampah-sampah yang liar, bertebaran disana-sini dan tanahpun tak mampu mengurainya. Disana-sini sungai terkotori dan tercemari oleh kotoran manusia dan limbah industri yang dibuang sembarangan.
Gonjang-ganjing ke telinga kita mengenai ozon yang semakin menipis, pemanasan global adalah hal yang selalu di kambinghitamkan. Maka dari persoalan itu, berangkat dari tema ”Stop Polutions, Go Green enviroment” saya akan berusaha menjabarkan persoalan ini ke dalam karya ilmiah.
Adapun garis besar dari karya ilmiah yang saya buat, diantaranya apa sebenarnya pencemaran lingkungan itu, dalam kajian ini ada beberapa poin dan substansi yang dititikberatkan yakni defenisi polusi itu sendiri, serta asal muasal terjadinya kontaminasi polusi yang bercampur baur dengan udara bersih lalu apa yang menyebabkan polusi, kegiatan manusia yang berpotensi untuk menambah pencemaran., distorsi polusi terhadap lingkungan. Nantinya di akhir bab pembahasan penulis akan menjabarkan bagaimana pula upaya prefentif dari pencemaran lingkungan. Ada pula upaya antisipasi dan mengatasinya. Dalam usaha prefentif ini tidak hanya khlayak ramai yang dijadikan subjek agar intensitas polusi berkurang, tapi bagaimana pula usaha pelajar. Suara pelajar itu sendiri yang menjadi ruh dalam karya ilmiah ini. Terlebih pelajar yang duduk di bangku kelas Internasional yang mengaharuskan mereka berkontribusi akan masalah ini.
Adapun metode peneletian yaitu kajian lapangan dimana penulis turun ke lapangan untuk melihat situasi konkret tentang polusi yang ada di sekitar lingkungan penulis. Lalu adapula wawancara (interview) dengan beberapa orang pelajar kelas Internasional, serta beberapa sampel yang dipih secara acak dari beberapa sekolah. Sedangkan untuk metode penulisan akan penulis lakukan dengan memakai studi pustaka yang berperan sebagai rujukan atau referensi penulis poin-poin penting lalu pembahasan selanjutnya akan penulis tuliskan dengan melihat situasi kondisi nyata.
Tujuan umum penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengkuti lomba karya ilmiah yang diadakaan oleh Unit kesenian Minangkabau, Institut teknologi Bandung. Untuk tujuan khusus yakni untuk mengetahui kondisi riil terhadap polusi yang telah mencemari lingkungan dan harapan penulis setelah menuliskan karya ilmiah ini agar tingkat potensi polusi semakin berkurang dan penulis berharap banyak agar lewar karya ilmiah ini akan menumbuhkan kesadaran pada setiap orang untuk lebih peduli terhadap polusi yang membayakan keselamatan manusia. Ya, semoga!.

Jumat, 20 Maret 2009

DIMENSI CERPEN

Pak Kumis
Oleh Dodi Prananda


Didekat rumahku ada seorang bapak tua yang bernama Pak Kumis. Kata orang-orang bapak kumis itu orangnya sangat benci terhadap anak kecil. Kalau ada anak kecil yang bertemu dengan Pak Kumis pasti anak itu akan menangis. Pak kumis pasti akan melototkan matanya dan menakut-nakutkan anak kecil itu degan kumis hitam lebatnya.
Aku sebenarnya takut dengan Pak Kumis. Melihat wajahnya yang amat menyeramkan, melihat kumisnya yang membuat anak-anak menjadi takut. Apalagi melihat rumahnya yang banyak debu, kecoak dan laba-laba. Pak kumis memang tidak suka bersih. Sehingga rumput-rumput dan ilalang yang tumbuh di depan rumahnya menjadi perlahan-lahan panjang hingga akhirnya menutup rumah Pak Kumis.
“Bu, kenapa Pak Kumis itu tidak pernah bicara dengan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya?” tanyaku suatu hari pada Ibu.
“Siapa bilang? Pak kumis itu sebenarnya orang yang baik, Cuma orang-orang yang tinggal di sekitar tempat tinggal Pak Kumis itu saja yang menganggap Pak Kumis orang gila dan menakutkan,” balas Ibu.
Aku masih saja tidak percaya dengan perkataan ibu, kalau Pak Kumis memang orang baik kenapa semua teman-temanku takut kepadanya. Belum lagi anak-anak kecil yang menangis dan ketakutan ketika melihat Pak Kumis. Akh, aku sebaiknya menyelidiki bagaimana Pak Kumis sebenarnya.
Dan siang itu sepulang sekolah aku pulang dengan sangat tergesa-gesa. Aku berlari seperti orang ketakutan menuju rumah. Bukan Pak Kumis yang mengejarku, tapi aku tidak tahann ingin buang air kecil. Aku terus berlari-lari hingga akhirnya aku sampai di depan rumah Pak Kumis. Kulihat Pak Kumis berdiri di depan rumahnya. Sebenarnya aku tidak berani menegur Pak Kumis, tapi berhubung aku sudah tida tahan ingin buang air kecil terpaksa aku menggerakan mulutku untuk bicara.
“Pak, Pak Kumis, saya boleh tidak numpang buang air kecil di rumah Bapak!” ucapku tanpa pikir panjang. Kalau aku meneruskan berlari sampai ke rumah aku tidak tahan untuk buang air secepatnya.
Pak Kumis tidak menjawab. Sepertinya ia marah karena selama ini aku dan teman-teman yang lain sering mengejeknya dengan orang gila dan orang aneh. Aku menjadi takut, betul-betul sangat takut. Ingin rasanya aku kencing pada saat-saat ini. Apalagi ketika Pak Kumis mendekat kearahku. Ia menyentuh pundakku. Aku gemeter. Namun alangkah terkejutnya aku ketika sebelumnya aku membayangkan Pak Kumis akan memarahiku, ternyata tidak. Pak Kumis menggendongku dan membawaku masuk kedalam rumahnya. Dibawanya aku ke kamar mandinya. Lalu ia biarkan aku sendiri di kamar mandinya. Aku lega sekali ternyata Pak Kumis tidak seperti yang aku bayangkan, sungguh benar ucap ibu yang mengatakan bahwa Pak Kumis itu baik.
Setelah aku buang air kecil di kamar mandi Pak Kumis, aku segera mencari Pak Kumis. Rupanya ia sudah menunggu aku di ruang tamunya. Ia tampak ingin memperlihatkan sesuatu kepadaku. Benar, ia memperlihatkan padaku sebuah album yang ada foto istrinya dan anak Pak Kumis yang sudah meninggal. Aku turut sedih.
Sebelum aku melangkah untuk pulang Pak Kumis menitipkan sesuatu untuk ibuku. Satu kantong plastic buah jambu yang berwarna merah. Semenjak kejadian itu aku jadi sering mampir dan main ke rumah Pak Kumis. Teman-temanku jadi banyak yang bingung kenapa aku sekarang akrab dengan Pak Kumis. Tarandam, 2009
Penulis cerita anak Tinggal di Padang

VERSION



DESCRIPTION ABOUT HOUSE


IDENTIFICATION OF MY HOUSE

My House is the best place for my self and my familiy. I think my house is so big and enjoyed place. It became my heaven and niece place. I live on a street called aspol Lolong. It is a beautiful street where each house seems to stand on it’s own little hill like royalty. There are trees literally everywhere. 50 is my house. It looks is the king of Heaven, you would know by just looking at it.


Bedroom
We have two double rooms, each with ample storage, colour television, radio, hairdryer, tea/coffee facilities, basket of local information and a luxury en-suite bathroom. These rates include full breakfast as required. Both rooms are en-suite and have colour TV and tea/coffee facilities.


Toucan Blue is a four bedroom beachfront house with large deck for outdoor living. It is decorated in fresh, lively colors of the Caribbean with photos of various Roatan scenes placed throughout the house. Ceiling fans and air conditioning are available in each room. While staying at Toucan Blue you can enjoy the options of TV, VCR/DVD, stereo/CD player with indoor/outdoor speakers, and wireless internet access. The emerald green bedroom also has a large picture window to greet each morning with a view of the sea and reef. It has a private bathroom with shower.


The sapphire blue fourth bedroom on the upper level is adjacent to the large ceramic tile covered deck with panoramic views of the sea and reef. It has a private bathroom with shower, tall ceilings and is surrounded by windows.

The Dining Room

The Dining Room,panelled in fir and modelled after the original Rattenbury-Maclure design, is used to host formal luncheons and dinners from 3 to 10 people. The focal point of the room is the dining room table and chairs, purchased in Scotland by former Lieutenant Governor Frank Mackenzie Ross and his wife, Mrs. Phyllis Ross(mother). The Ross’s donated the table and chairs to the House, along with the Jacobian sideboard also found in the Dining Room.



The kitchen

The bright, open main floor of the house has hardwood floors and tall ceilings. It features the living area, full kitchen, dining area, a half bath, and huge covered deck space. Views of the sea and barrier reef provide the picture perfect scene as you gaze out the windows or enjoy the scene from the deck. The kitchen is well equipped with stove, refrigerator with icemaker, microwave, cookware, dishes, and serving essentials.


Bathroom

The front coral colored bedroom has a large picture window facing the sea for a breathtaking view when awaking. A tiled bathroom with Jacuzzi tub and shower is located between two of the bedrooms. The purple bedroom shares a full bathroom with Jacuzzi on the lower level.


Living Room

The large deck is perfect for outdoor living and where you might spend most of your time. It's a great place to relax with morning coffee, and the barbeque grill brings cooking outdoors. It's also a perfect place to listen to the soft waves breaking against the reef and for star gazing at night.

Enjoyed room
I often dream about leaving this place and finding my own place to live. Like an apartment. It would be a crummy place, but it would be mine. It would have a T.V., a DVD player, a stereo system, and all of my books, comics, CDs, video games and my Gamecube, and my guitars. It would also have just some basic furniture like a table, a couch, some chairs, and my room with my bed in it. That would be very nice.


My sister’s room
My sister’s room is just as colorful if not more. The walls are purple and there are crazy chalk drawings on some of them. Her room is also decorated with strange little trinkets like little wooden boxes, incense burners, and her own artwork. I don’t real


The living room
The living room is the first room when entering the house. This room is filled with very lively furniture. Comfortable, tan leather couches, colorful rugs over the bare wood floor, and a large display case with pictures, books, and many memories of friends and family. And I mustn’t forget about the enormous window that, during the day, will let as much sunlight and energy in the room as it possibly can


The laundry room
The laundry room has a new full size washer and dryer for your use and convenience. A refreshing shower is located near the front entrance to wash off the sand and salt from the sea before entering the main rooms of the house.


My parent’s room
My parent’s room is right next to my sister’s room. There’s not much of anything good in there. A boring bed, a couple of dressers, a boring nightstand, and a boring closet is all that is in there. I don’t visit that room much either. Mainly for privacy. , That’s There’s, TV DVD, Gamecube DVD, There’s TV, stereo system, piece crap, that’s there’s, dvd player,

Sabtu, 14 Maret 2009

TENTANG



Mengenai Remaja Dan Emosionalnya

Oleh Dodi Prananda


Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang sangat indah, dimana mereka bisa menemukan jati diri mereka sebagai seorang anak manusia yang membutuhkan cinta. Lalu bagaimana seorang remaja tersebut dapat menemukan jati dirinya di masa peralihan sikap sekaligus mentalnya?
Ya, salah satu faktor yang memiliki peranan cukup besar yakninya emosional. Dalam konteks pembicaraan mengenai emosi dan remaja dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kecerdasan emosional seorang remaja dapat menentukan apakah seorang remaja berhasil menemukan jati dirinya.
Pada masa remaja atau masa peralihan untuk menemukan jati dirinya tersebut adanya sebuah pergolakan emosi yang tidak terkendali, notabenenya tergantung sepenuhnya pada diri remaja tersebut, kalau remaja mampu mengendalikan emosi berarti ada sebuah perwujudan kecerdasan emosi yang efektif.
Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.
Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.
Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.
Kenali diri kenali kecerdasan emosi
Pada masa remaja (usia 12 sampai dengan 21 tahun) terdapat beberapa fase (Monks, 1985), fase remaja awal (usia 12 tahun sampai dengan 15 tahun), remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun) masa remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21 tahun) dan diantaranya juga terdapat fase pubertas yang merupakan fase yang sangat singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya. Fase pubertas ini berkisar dari usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun (Hurlock, 1992) dan setiap individu memiliki variasi tersendiri. Masa pubertas sendiri berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga kesulitan pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan selanjutnya. Pada fase itu remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak baik pada bentuk fisik dan psikis terutama emosi.
Ada beberapa faktor sebenarnya yang sangat memberikan distorsi akan emosi seorang remaja, diantara hal yang tidak terlepas dari kendali emosi seorang remaja itu adalah lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman sejawat dengan seribu satu macam aktifitas. Dimana masa remaja yang sangat identik dengan lingkungan sosial tersebut akan ada kesinambungannya dengan lingkungan dimana seorang remaja tersebut berinteraksi, di lingkungan yang baikkah atau sebaliknya, hal tersebut tentu menuntut remaja untuk mengefektifkan antara kepekaan dirinya dengan lingkungan.
Apabila terjadi ketidakseimbangan antara yang dijalani remaja dalam konteks pembicaran mengenai aktifitas yang dijalankan di tempat interaksi, lebih banyak waktu terhabiskan di sekolah dan tidak memadai untuk pemenuhan gejolak energi, maka hal itu akan berbuntut pada pada meluapnya energi yang tidak dapat tersalurkan tersebut menjadi aktifitas yang bernilai positif semisal tawuran.
Nah, dapat di tarik sebuah kesimpulan awal bahwa betapa besarnya gejolak emosi seseorang yang ditandai dengen kepekaan dirinya terhadap dirinya ketika berinteraksi dengan tempat lingkungan atau tempat berinteraksi.
Remaja perlu tanggap dengan kecerdasan emosinya
Apabila ada sebagian remaja yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang indah barangkali hal tersebut sah-sah saja dan dapat diterima dengan alasan dimana masa remaja ini seorang remaja paling banyak sekali intensitas distorsi lingkungan ataupun influence teman-teman sejawat, maka tidak perlu dicengangkan lagi apabila ada seorang remaja yang tidak mampu mengendalikan emosinya yang meluap sebagai akibat dari ketidakpahamannya akan dirinya, maka dapat dikatakan bahwa remaja itu belum bisa memanage kecerdasan emosinya secara baik dan efektif.
Berdasarkan hal itu jualah diperlukan kecerdasan emosi dalam diri remaja agar ia lebih paham dan hal yang sama tidak terulang, yakni meluapnya emosi. Kecerdasan emosi itu sendiri terlihat dari bagaimana seorang remaja bisa memberi kesan yang positif akan tentang dirinya, diharapkan ia dapat menggali energi yang positif, seperti memahami diri, mampu menggali potensi dan energi positif yang ada dalam dirinya, serta bagaimana ia menyetarakan diri dengan lingkungan tempat ia berada. (referensi berbagai sumber). Padang, 7 Februari 2009

Penulis bergiat di Yayasan Citra Budaya, Sanggar Sastra Pelangi.

Jumat, 27 Februari 2009

HITZ NOW


Efek Rumah Kaca

Efek Rumah kaca adalah sebuah grub band beraliran Indie. Band yang berasal dari ibu kota Indonesia ini dibentuk formasinya pada tahun 2001. Personelnya antara lain Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar).

Sebelum mereka menetapkan tiga personel di dalam band ini, nama yang diberikan untuk Band ini adalah Hush, yang kemudian akhirnya diganti menjadi Superego lalu di tahun 2005 ditetapkanlah nama Efek Rumah Kaca sebagai nama Band ini, yang mana di ambil dari salah satu hits single dalam album pertamanya. Beberapa album yang telah dirilis antara lain : Efek Rumah Kaca - 2005, Kamar Gelap - 2008.

Warna musik yang disuguhkan oleh Band yang pernah mendapatkan beberapa penghargaan seperti;Nominator AMI Award 2008, Rookie of the Year 2008, Rolling Stone Indonesia, Peraih MTV Music Award 2008, kategori The Best Cutting Edge adalah pop meski banyak yang menyebutkan kalau aliran mereka adalah shoegaze adapula yang mengatakan beraliran post-rock. (Dodi Prananda, SMAN 1 Padang, wikipedia)

OBROLAN




Homeschooling Di Kalangan Selebritis
Selebritis Bicara Tentang Homeschooling
Barangkali untuk mendapatkan pendidikan, kita tidak hanya bisa meraihnya lewat pendidikan formal di sekolah. Ada salah satu alternatifnya, yakni pendidikan homeschooling. Untuk sebagian orang terlebih pada selebritis yang mempunyai kesibukan dan seabrek aktifitas, menganggap lewat pendidikan alternatif ini ia banyak mendapatkan manfaat. Apalagi untuk selebritis remaja yang tidak mau mengabaikan pendidikannya dengan seribu satu kesibukannya.
Banyak selebritis remaja kita yang tetap menimba ilmu di samping menjalai peran mereka sebagai entertainer. Mereka menjalani kedua aktifitas sekaligus, sebagai bekal masa depan mereka tidak pernah mengabaikan pendidikan. Meskipun mereka tidak ada waktu untuk mengenyam pendidikan di bangku pendidikan formal, tapi mereka telah mendapatkan pendidikan alternatif yang bernama homeschooling untuk memudahkan mereka dalam membagi waktu.
Berikut adalah sederatan nama selebritis yang memilih homeschooling sebagai pendidikan alternatifnya. Siapa sajakah mereka?

Nia Ramadhani

Ketertarikan gadis yang dilahirkan dengan nama lengkap Prianti Nur Ramadhani, kelahiran 16 April 1990 ini dengan pendidikan homeschooling adalah ketika ia harus memilih untuk diam di rumah. Apalagi kalau ia disuruh untuk memilih diam dirumah atau nongkrong dengan teman di mall, maka Nia, begitu sapaan akrab pasangan Priya Ramadhani dan Chanty Mercia akan memilih untuk diam di rumah.
Nia menguatarakan sekaligus menjelaskan bahwa oleh hal itu ia menjadi bertekad bulat untuk memiih pendidikan alternatif semacam homeschooling. Bahkan tidak hanya sekedar pendidikan homeschooling, tapi juga di barengi dengan basis internet. Baginya setelah ia memilih pendidikan seperti itu ia tidak lagi menemukan kesulitan untuk memenage kesulitan pembagian waktu antara kesibukan syutingnya dengan menimba ilmu.
"Paling lama aku pergi ke mal hanya dua jam. Setelah itu aku ingin buru-buru pulang, ingin membuka internet untuk mengerjakan tugas belajar. Lagian kalau aku pergi sampai dua jam, handphone-ku pasti bunyi terus. Biasa, Mama selalu khawatir," kata bintang Sinetron Alisha dan bintang iklan fruitamin ini.
Lain lagi alasan kedua Nia sebelum ia membulatkan pilihannya akan homeschooling. Yaitu disaat teman-teman Nia dan kenalannya yang tidak tahu harus kemana setelah lulus SMA. Banyak ilmu yang diajarkan dari 13 mata pelajaran di pendidikan formal oleh teman-teman dan kenalannya itu, tapi buktinya ilmu itu hanya ngambang. Nia sudah mengambil pilihan yang benar menurutnya agar bintang film Kesurupan dan Hantu Jembatan Ancol serta Suster Ngesot ini tidak mengalami nasib yang sama dengan teman-temannya itu.


Eva Celia Latjuba

Bagi cewek bintang iklan kartus AS ini pendidikan homeschooling memberikan banyak kemudahan antara karier atau bisnis hiburannya dengan pendidikan. Apalagi ia mengambil kesimpulan bahwa cara menuntut ilmu dengan belajar di rumah, bukan di sekolah, itu juga tak jauh berbeda dengan sebagian besar dari sistem pendidikan di AS.
Homeschooling yang dijalani oleh Eva Celia (15) memudahkan ia dalam berkarier di bisnis hiburan. Menurutnya, cara menuntut ilmu dengan belajar di rumah, bukan di sekolah, itu juga tak jauh berbeda dengan sebagian besar dari sistem pendidikan di AS. Memang Eva mau hijrah ke negara itu? putri artis Sophia Latjuba (Sophie) dan pemusik Indra Lesmana ini, ia merasa nyaman dengan homeschooling, walaupun masih suka kangen kepada pertemanannya dulu di sekolah biasa sebelum mengikuti homeschooling.
Katanya, dalam sistem pendidikan tersebut tak ada ujian, sehingga ia bisa dengan leluasa menjalani kegiatan-kegiatan keartisannya, sebut saja syuting sinetron. Katanya lagi, homeschooling juga tak jauh berbeda dengan sebagian besar dari sistem pendidikan di AS. Eva Memang memiliki keinginan untuk menimba ilmu dan tinggal di AS, negara asal Michael Villareal, suami Sophie sesudah bercerai dari Indra. "Siapa sih yang enggak mau tinggal di sana? Negara itu memang tujuanku," ucap cewek kelahiran Jakarta, 21 September 1992, ini.


Randy Pangalila

Bagi seorang Randy (sama seperti seleb yang lain), pendidikan homeschooling kaya manfaat dan memberikan banyak kemudahan. Ia merasa cocok dengan homeschooling, apalagi kalau mengingat jadwal syutingnya yang selalu penuh. Pemeran sosok Tristan dalam sinetron Cinta Fitri itu juga sempat mengutarakan beberapa manfaat lain setelah melalau pendidikan lewat jalur pendidikan homeschooling diantaranya fleksibel, praktis, dan tidak banyak aturan.
“Aku tidak salah pilih mengambil homeschooling untuk pendidikanku, habis kalau homeschooling itu tidak ribet, tidak banyak aturan dan tidak banyak tetek bengek,” ujar bintang Film Oh Baby ini.
Randy pun kurang setuju kalau ia dikatakan tipe cowok yang egois dan anti sosial karena telah memilih pendidikan homeschooling.

Ihsan “Idol”

Yang membuat Ihsan, cowok kelahiran Medan, 20 Agustus 1989 memilih untuk mengambil homescholing adalah tuntutan akan dirinya sewaktu ia menjalani ajang Indonesian Idol di tahun 2006 lalu, disamping harus bersekolah. Makanya untuk mendapatatkan kemudahan, Ihsan mengambil jalur pendidikan homescholing tersebut.

"Aku belajar lewat internet," aku cowok yang mempunyai nama lengkap Muhamad Ihsan Tarore. Makanya, ia harus rajin buka internet. Ngecek e-mail wajib buatnya. Karena lewat e-mail ia mendapat tugas-tugas sekolah.

Jadi Ihsan bisa mengatur jadwal belajarnya sendiri. Ia bisa belajar kapan saja dan dimana saja. "Tapi tetap ada pertemuan. Seharusnya sih seminggu sekali. Tapi karena kesibukanku, aku sering nggak bisa datang," aku Ihsan sambil tersenyum. Wah, ternyata, walau masuknya cuma seminggu sekali, Ihsan masih suka bolos ya.

Dominique
Latar belakang Dominique mengambil homescholing adalah keinginannya untuk mengejar paket C dan lulus. Setelah berhasil mewujudkan keinginannya itu untuk home schooling akhirnya membuat Dominique tertarik untuk aktif serta bergabung Yayasan Cinta Anak Bangsa, Dominique mengaku bahwa ini semua didasari oleh pengalaman pribadi atau keinginanya dahulu aktris ini.

Selain sederet nama diatas masih banyak lagi artis atau seleb Indonesia yang mengambil pilihan homescholing, diantaranya Rini Wulandari atau Rini “Idol” serta anak-anak dari Kak Seto Mulyadi juga memilih jalur pendidikan homescholing ini. (Dodi Prananda, SMAN 1 Padang, berbagai sumber)