Jumat, 23 Juli 2010

Donasi Buku untuk Rumah Kancil Kreatif





Forum Pelajar Indonesia II 2010 yang diselenggarakan di Jakarta 05-11 Juli lalu di Graha Kuningan Jakarta, mengilhami salah seorang delegasi dari Sumatera Barat, Dodi Prananda merealisasikan aksi positifnya. Pantuan inioke.com mendapatkan informasi bahwa siswa yang duduk di bangku kelas XII IPS SMA 1 Padang itu tengah menggagas acara donasi buku untuk sebuah rumah baca yang berlokasi di Pariaman.

Sebagaimana informasi yang diterima oleh Inioke.com melalui catatan facebooknya, Dodi, cowok kelahiran Padang 16 Oktober 1993 itu mengungkapkan bahwa
sebagaimana kesepakatan yang telah kita buat pada malam perpisahan, Sabtu (10/07) bahwa kita(peserta FOR II-red) akan merealisasikan program di daarah atas hal yang telah kita dapat selama satu pekan pada FOR II. Selama perjalanan udara dari Jakarta menuju Padang saya terus bertanya-tanya: apakah saya bisa mewujudkan hal konkret yang sudah di gagas?

Aksi pengumpulan buku yang Dodi lakukan merupakan langkah awal yang diwujudkan selangkah demi selangkah untuk mulai berbuat. Tepat pada hari Rabu (14/07) kemarin Dodi bersama teman-teman menggagas acara pengumpulan buku bekas yang bermanfaat. Buku tersebut akan disumbangkan untuk "Rumah Kancil Kreatif" yang berlokasi di Pariaman, Sumatera Barat. Semenjak hari Rabu, Dodi dan teman-teman mengumpulkan hingga hari ini Jumat (16/07) sebanyak 200 buku berhasil dikumpulkan. Untuk menambah kuantitas buku, Dodi masih terus berjuang mencari para teman-teman lain yang ingin mendonasikan bukunya. Tujuan utama dari kegiatan Sumbangan Buku untuk Rumah Kancil Kreatif ini adalah meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak dan remaja.


Sedikit bercerita mengenai Rumah Kancil Kreatif, rumah ini merupakan sejenis rumah baca yang berada di kawasan Pariaman. Ya, gempa 7,9 SR yang mengguncang Sumbar September lalu berpusat di kota yang terkenal dengan tradisi Tabuik ini. Nah, di Pariaman inilah Rumah Kancil Kreatif didirikan. Selain mengingat akses bagi remaja dan anak-anak kurang dalam membaca buku, perpustakaan juga sulit ditemui. Karena alasan itulah, Rumah Kancil Kreatif didirikan agar anak-anak di daerah Pariaman bisa meningkatkan semangat dan minat dalam membaca.

"Harapan saya, langkah awal saya ini bisa menjadi bentuk kontribusi saya akan orang-orang lingkungan di sekitar. Mungkin kegiatan Donasi Buku ini belum bisa benar dirasakan manfaatnya untuk masyarakat luas. Tapi saya yakin dan berjanji untuk mulai menggagas hal yang lebih besar lagi. Hal yang lebih luar biasa Semoga!" tulisnya dalam catatan di jejaring sosialnya. (Dodi Prananda)

Siswa MAN 2 Payakumbuh Boyong Pemimpin Muda Indonesia 2010





Masih ingat dengan acara Pemilihan Pemimpin Muda Indonesia beberapa tahun lalu? Yups, acara yang dihelat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan UNICEF itu menjadi ajang yang membuktikan eksistensi Sumatera Barat. Berita terkait yang pernah diturunkan oleh penulis(sekaitan dengan Pemimpin Muda Indonesia judul berita "Remaja Sumbar Langganan Jadi Pemimpin Muda Indonesia"-red), menyatakan bahwa Sumatera Barat berkali-kali mengibarkan benderanya dalam ajang tersebut.

Sejak tahun 2004, 3 anak dari belahan Indonesia terpilih untuk dinobatkan sebagai Pemimpin Muda Indonesia 2010. Esti Maryanti Ipaenim (Ambon), Syarifah Amelia (Bangka Belitung), dan Teguh Raharjo (Yogyakarta) terpilih pada tahun 2004. Untuk tahun 2005, terpilih pula tiga anak Indonesia yaitu Bella Diniyah Putri (Lampung), Ady Juanda (Padang), Asti Utami (Yogyakarta).

Sedangkan untuk tahun 2006, ada Chrisna Widyawati (Yogyakarta), Andra Septian (Bukittinggi), dan Trustia Rizqandaru (Bandung). Kadek Ridoi Rahayu (Bali), Asep Ramdhani (Bandung), dan Joko Sukamto (Boyolali) terpilih menjadi pemimpin muda Indonesia untuk tahun 2007. Setelah Ady Juanda, M. Iman Usman (Padang) juga terpilih pada tahun 2008 lalu bersama Patricia Miranda Wattimena (Ambon) dan Suci Lestari (Aceh). Untuk tahun 2009, terpilihlah Andi Fardian (NTB), I Gede Wahyu Adi Raditya (Bali), dan Aan Fajar Lestari (Yogyakarta).

Nah, untuk tahun ini Sumatera Barat kembali meraih kebanggaan yang sama. Seorang siswa MAN 2 Payakumbuh, Mulyadi, terpilih sebagai Pemimpin Muda Indonesia 2010, bersama dua anak lainnya, Halo Charles dari NTT dan Maitri dari Bali. Ia direkomendasikan oleh Forum Anak Sumatera Barat dan Lembaga Perlindungan Anak kota Padang sebagai remaja yang aktif mengkampanyekan hak-hak anak.Siswa kelas III ini, sekaligus membawa bendera Sumatera Barat, memenuhi undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menghadiri acara peringatan Hari Anak Indonesia 2010, di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, 23 Juli mendatang.

Pelajar berprestasi ini, didampingi Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, BPMP-KB Payakumbuh, Usfa Haryanti, S.Pi Kasubdit Pemberdayaan Perempuan, Erma Yunita, S.Sos, dilepas Sekdako Payakumbuh H. Irwandi, SH, di Balaikota Payakumbuh, sebelum bertolak ke Jakarta, Selasa (20/7). Selama di Jakarta, Mulyadi akan didampingi Kasubdit Pemberdayaan Perempuan, Erma Yunita, S.Sos, yang juga orang tua Mulyadi sendiri.

Sekdako berpesan, agar Mulyadi mampu berprestasi lebih baik selama mengikuti acara peringatan Hari Anak Indonesia. Prestasi Mulyadi, sebutnya, seyogianya diteladani oleh pelajar lainnya di Payakumbuh. Mulyadi, juga diharapkan, menjadi pemimpin besar di kemudian hari, dengan meningkatkan SDM serta kualitas iman dan taqwa, ingatnya.

Keterangan Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Usfa Haryanti, prestasi yang diukir Mulyadi, tidak sebatas mengharumkan nama Sumbar dan Payakumbuh, tapi juga membawa berkah bagi yang bersangkutan. Selain ditanggung pembiayaan ke Jakarta, plus akomodasi di hotel berbintang, juga beroleh penghargaan dari UNICEF dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Pertlindungan Anak Kabinet Indonesia bersatu II, serta uang tunai dari sponsor Bank CIMB Niaga Jakarta, Rp5 juta.

(Sumber:Official Website Kota Payakumbuh/Dodi Prananda)

Minggu, 23 Mei 2010

Dongeng Bunda


Oleh Dodi Prananda



“Ayo, anak bunda yang cantik, yakin nih nggak mau dengar dongeng Bunda?” sahut Bunda pada Nengsih. Nengsih melirik Bunda yang sedang membuka buku kumpulan dongeng yang baru dibelinya di Gramedia. Soalnya kantor Bunda sangat dekat dengan toko buku Gramedia, jadinya Bunda bisa belanja buku sepulang dari kantor. “Iya Bun, Nengsih mau dengar Dongeng Bunda!” sahut Nengsih cepat.


Bunda mendekap putrinya itu. Diciumnya kening Nengsih. Bunda memang biasa menceritakan dongeng-dongeng kepada Nengsih. Kadang Bunda mendongeng tanpa perlu melihat buku kumpulan dongeng. Tapi, pernah pula Bunda mendongeng yang dikarang sendiri oleh Bunda. Dengan gaya khas Bunda, Bunda memulai dongengnya.



“Tapi, Nengsih masih ingat nggak dongeng Bunda yang kemarin?” tanya Bunda. Bunda seakan-akan membawa Nengsih ke hari kemarin. Kemarin Bunda mendongengkan dongeng “Si Ratu Pelit” pada Nengsih. Nengsih pun menyimak dongeng Bunda dengan serius. Hampir tak ada ia mengedipkan matanya. Bola matanya tak henti menatap Bunda yang sedang bercerita.


Dongeng Si Ratu Pelit diceritakan bunda dari sebuah buku kumpulan dongeng. Bunda baru saja membeli buku itu seminggu yang lalu. Dongeng itu sangat bagus sekali. Nengsih masih mengingatnya dengan jelas. Dongeng Si Ratu Pelit itu bercerita tentang ratu yang mukanya habis digigit oleh lebah karena ia tidak mau memberi pengemis yang datang ke istananya. Padahal si Ratu sudah berjanji pada raja tunggal kerajaan untuk mau berbagi kepada orang yang membutuhkan. Akhirnya karena kepelitannya, beribu-ribu lebah menyerangnya ke dalam istana.


Nengsih sangat tertegun mendengar dongeng yang diceritakan bunda kemarin. Nengsih iba pada si Ratu yang muka cantiknya cacat. “Bun, Nengsih jadi kasihan pada ratunya, padahal ia kan orang yang paling cantik di negeri itu” ujar Nengsih memberi komentar.


“Coba kalau sang Putri mau membantu pengemis itu ya Bun, pasti mukanya kan nggak jadi jelek karena digigit lebah. Mang Usman yang digigit satu lebah saja mukanya jadi bengkak, gimana kalau yang mengigit si putri beribu-ribu ya, Bun?” ucap Nengsih lagi pada Bunda.


Bunda hanya tersenyum. Bunda senang Nengsih bisa memberi komentar ketika Ibu selesai mendongeng. Bunda ingin anaknya cerdas karena ia sering mendongengkan Nengsih. Bunda berharap dari cerita dongeng yang ia ceritakan pada Nengsih bisa menjadi pelajaran bagi Nengsih. Soalnya Bunda kemarin membaca tulisan di sebuah Koran ibukota. Kata tulisan dikoran itu katanya dongeng bisa merangsang pikiran anak.


Buktinya usaha Bunda itu berhasil. Setelah Bunda mendongengkan dongeng Si Ratu Pelit itu, Nengsih jadi sering memberi uang pada pengemis. Kemarin Bunda melihatnya sendiri, waktu ia mengantarkan Nengsih ke sekolah dengan mobil kijangnya. Ketika mobil berhenti dilampu merah, ada seorang pengemis yang mengetuk kaca mobil.


Nengsih membuka pintu mobil. Ia mengambil beberapa lembar uang jajannya. Bunda sudah menebak kalau ia akan memberi pengemis itu. Benar rupanya. Nengsih benar-benar memberinya pada pengemis itu. Uang dua ribu rupiah dari jajannya ia berikan pada pengemis itu. Bunda melirik Nengsih yang kelihatannya senang bisa membantu pengemis itu.


“Bun, Nengsih nggak mau kayak si Ratu Pelit yang mukanya digigit oleh ribuan lebah yang menyerangnya! Nggak apa-apa kan Bun? Meskipun jajan Nengsih jadi tinggal seribu lima ratus karena harus memberi pengemis itu, tapi Nengsih ikhlas kok, Bun. Seperti dongeng “Pak Kusir Dan Kereta Kuda”. Dongeng yang paling Nengsih suka Bun!”
Bunda tersenyum. Ia senang melihat putrinya bersikap seperti itu. “Emang Nengsih masih ingat ceritanya?” tanya Bunda.


Nengsih meletekkan jari telenjuknya di kening. Seperti sedang berpikir, tapi ia hanya menirukan gaya gambar Albert Einstein yang ia pasang di dekat meja belajarnya. Bunda juga sering menceritakan tentang kehidupan para ilmuwan seperti Albeirt Einstein pada Nengsih. Dengan cepat Nengsih bisa menangkapnya. Salah satu buktinya, ia masih mengingat gaya khas Einstein kalau lagi sedang berfikir.


“Masih ingat dong, Bun. Pak Kusir yang hanyalah seorang penduduk desa terpencil. Nengsih ingin seperti Pak Kusir yang selalu ikhlas dalam menjalani hidupnya. Ketika kudanya diculik oleh seorang pencuri, Pak Kusir tidak sedih. Ia tetap sabar dengan hati yang ikhlas. Akhirnya dua hari kemudian kudanya kembali sendiri ke rumahnya. Alangkah senang hati Pak Kusir ketika melihat kudanya bisa kembali. Terus, ketika kereta kuda Pak Kusir ditabrak oleh raja yang jahat sekali, Pak Kusir tidak marah. Pak Kusir hanya tersenyum pada sang raja. Coba orang-orang sekarang seperti Pak Kusir yang selalu Ikhlas ya Bun dalam semua musibah yang menimpanya,” ujar Nengsih panjang lebar.


Itu adalah kenangan Bunda yang manis sekali. Kenangan ketika melihat anaknya bersikap sangat terpuji. Bunda bangga dan bahagia memiliki buah hati seperti Nengsih. Bunda memulai dongengnya hari ini untuk Nengsih.


“Hari ini Bunda akan mendongeng untukmu, Dongeng Bunda kali ini yaitu berjudul “Putri Berambut Emas”. Alkisah di negeri antah berantah, hiduplah seorang putri dan keluarganya yang hidup di sebuah kerajaan yang mansyur. Putri Dumi senang merawat bunga kamboja yang ada dihalaman istananya. Suatu hari ia melihat seorang putri dari kerajaan lain masuk ke istananya. Sang putri ini sangat angkuh dan sombong. Dengan kasar ia berbicara pada Putri Dumi dan memaki-maki Putri Dumi. Putri yang angkuh itu menuduh Putri Dumi telah mencuri bunga kamboja miliknya”


“Hei, Dumi, pasti kamu yang telah merampas bunga kamboja milikku. Dasar putri pencuri!” ujar Bunda sambil menirukan gaya seperti putri angkuh.
Nengsih menopang tanganya didagu. Ia sangat serius mendengarkan dongeng Bunda. Dalam benaknya, ia mengimajinasikan karakter Putri Dumi dan putri yang angkuh itu. “Terus gimana akhirnya, Bun? Nengsih jadi penasaran nih!” ujarnya pada Bunda.



“Kedua Putri kerajaan itu akhirnya saling bersumpah. Kalau seandainya memang benar Putri Dumi telah mengambil bunga kamboja itu, maka Putri Dumi akan dipenjarakan di Istana putri angkuh itu, tapi kalau ternyata bukan Putri Dumi yang mengambilnya, maka putri angkuh itulah yang akan dihukum. Akhirnya setelah disidang, Putri Dumi dinyatakan tidak bersalah. Tiba-tiba rambut Putri Dumi menjadi emas, maka sejak itu seluruh orang disekitar kerajaan mengenal putri Dumi dengan sebutan Putri Berambut Emas,” ujar Bunda menutup ceritanya.


Nengsih benar-benar tidak bisa mengedipkan matanya. Ia seperti telah masuk ke dalam kerajaan tempat dimana Putri Dumi berada. Ibu menatap putrinya itu dengan senyum yang manis. Biasanya Nengsih akan selalu berkomentar ketika Bunda selesai mendongeng. Tapi, kali ini Nengsih belum berani untuk berkomentar.


“Bun, Nengsih mau mengaku deh kalau Nengsih udah salah. Kemarin Nengsih nggak sengaja menemukan dompet ini. Tapi, Nengsih belum mengembalikan kepada pemiliknya. Nengsih nggak tahu dompet ini punya siapa,” jelasnya. Bunda hanya senyum-senyum saja. Senyum bangga atas sifat Nengsih yang mau jujur.


“Baik, besok kita cari siapa pemilik dompet ini. Tapi kamu nggak ngambil uang di dompet ini kan?” Tanya Bunda.
“Uang yang ada dalam dompet ini masih utuh kok, Bun. Soalnya Nengsih kan juga mau jadi Putri Rambut Emas!”
Bunda dan Nengsih saling berpelukkan. Lagi-lagi Bunda merasa bangga mempunyai anak seperti Nengsih.

Padang, 21 November 2009 (Buat: Tante Mulyani dan Adekku, M.Fajri)

Kepulangan Ombak

Ayahku bertanya pada pasir kapan ombak akan pulang
Padahal sunyi bibir pantai sudah mengadu pada angin

Biduk ayahku sudah lama tak memeluk ibu
Sebab sewindu lalu begitu pasir menari-nari sepi
Lalu bulan Desember ini langit tak ada penghuni

Aku sudah berdialog dengan bulan perihal rindu yang usang
Dan cinta yang ranum di tepian
Sedang diatap-atap burung-burung pipit melagu kasih
Dan tentang cinta lain yang hilang di telan gelombang pasang

Mungkin ombak masih menyisir pulau panjang
Barangkali sepanjang pantai pohon-pohon kelapa yang panjang menjulai
Sedang berlagu duka

Ayahku kembali bertanya pada pasir kapan ombak akan pulang
Seketika biduk ayahku tak akan jua memeluk ibu didesember luka



Padang, 171209

Rabu, 19 Mei 2010

Kelinci Bernama Tumi



Oleh Dodi Prananda



Gina masih sesenggukan di dalam kamarnya. Semenjak Tumi, kelinci kesayangannya hilang tadi malam Gina jadi pemurung. Ia sering main dikamar. Enggan keluar kamar. Hilangnya Tumi membuat Gina menjadi banyak berubah. Tumi adalah sahabat terbaik Gina. Kalau Gina malas belajar, maka ia akan membawa Tumi ke dalam kamarnya. Tumi seperti berbicara dengannya, seolah-olah teman yang mengerti akan dirinya. Sekarang, sehari setelah hilangnya Tumi, Gina masih belum beranjak dari kesedihannya.
Tumi dibeli Gina dari toko hewan di luar kota. Waktu itu ia bersama keluarga jalan-jalan ke Jakarta. Mama singgah sebentar untuk mencari ikan hias, sebab ikan di aquarium sudah banyak yang mati.


Makanya Mama meminta Papa waktu itu mampir ke toko hewan. Amazing Pet Shop, begitu nama toko yang menjual berbagai macam binatang peliharan itu. Mulai dari kucing, anjing, ikan, kura-kura sampai berbagai macam burung. Waktu Mama memilih ikan bersama Papa, Gina memilih tinggal di mobil. Karena lama, Gina jadi tak betah. Ia turun dari mobil. Ia menemui Mama yang tampak masih sibuk memilih ikan hias.
Gina memperhatikan semua hewan-hewan yang dijual di toko itu. Ia melihat burung beo yang sangat berisik, ia juga melihat anjing yang menatap ke arahnya. Tiba-tiba mata Gina tertuju pada keranjang yang berisi berbagai macam kelinci. Gina tertarik. Ia menghampiri kelinci-kelinci itu. Ia menyentuhnya. Lembut. Bulu-bulunya yang berwarna putih dan hitam sungguh menawan.



“Kelinci yang manis!” ujar Gina.
Gina mengambil salah seekor kelinci yang berbulu putih dan hitam. Kelinci yang bulunya sangat bersih dan tebal. Gina mengelus-elus bulunya dengan lembut. Ia menempelkan kelinci itu ke pipinya, seperti dicium. Ketika Gina ingin menaruh lagi ke keranjang, kelinci itu tidak mau turun dari tangan Gina. Ia masih ingin dibelai Gina.



“Sepertinya kelinci itu suka padamu, Gin” sahut Mama tiba-tiba.
Gina mengangguk.


Akhirnya kelinci itu dibeli Mama. Sang pemilik toko ikut tersenyum waktu itu melihat kelincinya sangat lengket dengan Gina. Padahal baru bertemu pertama kalinya. Sampai di rumah kelinci diletakkan di sebuah tempat, kotak kecil yang dialas dengan kain-kain bekas. Itulah rumah kelinci sementara. Kelinci itu diberi nama Tumi. Nama yang sangat bagus untuk seekor kelinci yang imut, manis, dan menarik. Tumi itu adalah nama kucing Fani, teman sekelas Gina yang sudah meninggal karena tertabrak motor.


Rumah sementara itu akhirnya ditukar dengan kandang yang sangat bagus buatan Papa. Kandang itu dihias oleh Gina menjadi kandang yang luar biasa cantiknya. Sama cantiknya dengan kelinci itu. Kalau ada waktu Gina akan mengajak Tumi bermain di taman rumput belakang Rumah.


Sekarang kelinci itu sudah menghilang. Entah siapa yang mencurinya. Kalau saja Gina tidak teledor memasang kunci kandang Tumi, mungkin Tumi tidak lepas. Mungkin Tumi tidak hilang. Semua salah Gina. Gina sangat menyesali ketidaktelitiannya.


Gina tidak bisa melupakan kenangannya bersama Tumi. Ia sangat senan bermain dengan Tumi. Kalau tidak dengan Tumi yang menemaninya membuat PR, pasti Gina tidak akan membuatnya. Tumi membuat dirinya semangat. Tumi selalu membuat ia tersenyum.
Tumi adalah kelinci paling lincah yang pernah ditemui Gina. Kalau Gina kedinginan, ia akan bergerak menuju tubuh Gina. Gina pun langsung memeluknya. Mendekapnya dengan erat. Lalu giliran Gina yang membelai bulu-bulu halus nan lembut itu. Tumi jadi tersipu waktu itu.



Sekarang Tumi tidak ada. Tidak ada yang menbuat Gina menjadi semangat. Tidak ada lagi yang memeluk Gina kalau Gina ingin didekap. Tidak ada lagi yang membuat Gina bergerak cepat mengerjakan PR.



“Gin, Gina, ada Fani nih yang nyari kamu sayang,”ujar Mama sambil mengetuk pintu kamar Gina. Mama membuka gagang pintu kamar anaknya itu. Dilihatnya Gina sedang bersembunyi di dalam selimut. Mungkin menyembunyikan kesedihannya.
Fani masuk ke kamar Gina. Mama pun keluar, menutup pintu kamar Gina rapat-rapat. Fani berjalan mendekati ranjang Gina. Ia lihat sahabatnya itu tampak sangat sedih. Fani duduk si sisi Gina.



“Gin, Gina, ini Fani, Gin ada yang mau aku bilang sama kamu,” ujar Fani memulai obrolan.
Gina tidak menjawab dari balik selimutnya. Masih terdengar isak-isak kecil ditelinga Fani. Fani menatap kandang Tumi yang sudah kosong dan acak-acakkan. Fani ingin meneruskan kalimatnya, tapi ia tahan. Ia tunggu Gina menjawab. Tapi ketika Fani ingin menyambung, Gina buru-buru memotong. Ia bangkit dari dalam selimut. Lantas memeluk Fani dengan sangat erat.

“Aku ingin Tumi kembali, Fan” jawab Gina sambil menangis.
“Aku juga pernah merasakan hal yang seperti ini juga Gin. Kamu tahu betapa ibanya hati ini kucing yang tidak berdosa itu ditabrak oleh motor yang lewat di gang rumahku. Kita sama-sama pernah kehilangan Tumi, sahabat kita. Dan sekarang…”
Gina menatap bola mata teman sebangkunya itu. Ia tatap sekali lagi. Benar, Fani tak kalah sedihnya sewaktu kehilangan Tumi, kucing kesayangannya, sama halnya ketika dirinya kehilangan Tumi. Bahkan waktu itu, Gina sendiri yang datang ke rumah Fani untuk menghiburnya. Gina masih teringat waktu itu. Fani tidak mau makan selama seminggu. Ia tidak henti-henti menangisi kematian kucing berwarna coklat dan putih itu.



“Dan sekarang aku sudah punya pengganti Tumi, sekarang bukan kucing, tapi anjing mungil yang sangat imut,” ucap Fani. Gina menyeka airmata yang masih menetes. Ia berusaha untuk tidak lagi bersedih. Ia peluk Fani sekali lagi. Kali ini lebih erat. Lebih erat dari waktu ketika Fani sedang bersedih karena kematian Tumi.
“Aku boleh lihat pengganti Tumi?” sahut Gina yang mencoba tersenyum.
“Ayo, kita lihat dia diluar, aku bawa dia kesini”
Fani memegang tangan Gina. Ia rangkul tubuh sahabatnya itu. Mama jadi kaget sewaktu melihat Fani berhasil membujuk Gina keluar dari kamar. Keduanya bergegas menuju beranda rumah. Diberanda rumah sudah menanti dua ekor anak anjing yang sungguh imut dan mungil.


“Lho, kok dua anak anjingnya Fan?” tanya Gina.
“Ya, karena satu ini punyaku, dan satu untukmu Gina, anggap ini pengganti Tumi, kelinci kesayanganmu itu,” jawab Fani.
Senyum mengembang diwajah Gina.
“Bagaimana kalau kita ajak kedua ekor anak anjing pengganti Tumi ini berjalan-jalan keliling komplek?” sahut Fani tiba-tiba.
“Ide bagus!”
Gina segera memasang sandal. Lalu keduanya berjalan kelinci mengarak dua ekor anak anjing itu. Gina dan Fani memegang dengan erat rantai yang terpasang di kepala anjing itu. Ia tidak ingin hal yang sama terulang kembali.
Ketika melewati ujung kompleks, di dekat rumah Bu Sur yang memiliki anjing yang sangat jahat, Gina dan Fani berhenti sejenak. Mereka menunggu anjing yang suka menggigit orang itu sampai masuk ke dalam kandangnya. Setelah memastikan anjing itu masuk barulah keduanya meneruskan perjalanan.
Namun yang tidak disangka, tepat di dekat parit kecil di samping rumah Bu Sur, Gina menemukan sesuatu yang menarik matanya. Ia melihat bangkai seekor binatang. Ia pastikan sekali lagi. Ia amati secara teliti. Benar, itu adalah Tumi, kelinci kesayangan. Ia menemukan Tumi dalam keadaan yang sangat menyedihkan dan sudah meninggal. Leher Tumi penuh bercak-bercak darah, seperti bekas digigit. Gina tahu siapa pelakunya.


Ia membawa bangkai Tumi, kelinci kesayangannya itu pulang. Ia akan menguburkannya di belakang rumahnya. Tapi, kali ini Gina tidak lagi bersedih. Ia sudah punya pengganti Tumi.


Padang, 6 September 2009


(Naskah Ini Kategori Cerpen Anak, Dimuat di Padang Ekspres)

Kamar Bujang



Oleh Dodi Prananda




Saya akan berubah kesal ketika Tante Rika menyalahkan saya tentang kejadian itu. Waktu itu saya melakukan kesalahan yang bagi saya memang tidak masuk akal untuk diperdebatkan. Sampai-sampai malam itu saya kabur dari rumah.


Tidak ada salahnya saya ceritakan, cerita ini. Malam itu saya salah memasang obat nyamuk untuk kamar bujang. Kamar bujang. Singkat saja kenapa namanya kamar bujang. Karena ada banyak para bujang yang tidur dikamar yang berukuran sangat kecil ini. Banyak bujang dikamar ini? Bagi saya tiga orang laki-laki bujang yang tidur dikamar yang sempit ini saya katakan banyak. Tiga orang bujang itu saya, anak laki-laki semata wayang tante Rika dan satu lagi sepupu saya yang baru pulang dari Pekanbaru.


Oleh karena kamar bujang ini kecilah makanya asap obat nyamuk yang saya pasang langsung membubung dan asapnya memenuhi seluruh kamar. Esok harinya Tante Rika menemukan anaknya yang sudah hampir tamat sekolah itu batuk-batuk. Tante Rika marah besar kepada saya. Saya dimaki-makinya.

Tante Rika orang yang sangat sibuk. Ia punya bisnis disana sini. Bisnis cateringnya cukup sukses, cabangnya disana-sini. Belum lagi bisnis butik bajunya. Membuat Tante Rika menjadi jarang dirumah. Jarang membersihkan rumah. Tapi untuk memarahi saya sewaktu saya salah memasang obat nyamuk itu, saya tidak tahu kenapa Tante Rika mempunyai waktu untuk itu.
Sebenarnya saya ingin keluar dari rumah gadang ini. Keluar dari kamar bujang. Saya muak ketika selalu saja tangan saya ini yang membersihkan kamar bujang. Kain-kain gordennya yang tersibak sembarangan. Kaca nakonya yang kusam dan berdebu. Langit-langitnya yang penuh dengan lawah. Selalu saja saya yang membersihkan. Kalau tidak tangan saya yang menutup kaca nako yang mengaga itu maka sampai malam hingga pagi kembali, kaca nako yang berdebu itu akan tetap seperti itu. Juga gordennya yang dibiarkan tersibak acak-acakkan. Saya juga yang menutupnya.


Anak laki-laki tante Rika itu tidak pernah menyentuhkan tangannya untuk hal ini. Ia tak pernah saya lihat membersihkan kamar bujang. Ia tidak pernah melakukan apa-apa untuk kamar. Jangankan membersihkan untuk kamar, membersihkan alas ranjangnya saja ia tak pernah. Ia lebih peduli dengan teman-teman seusianya yang silih berganti datang ke rumah untuk mengajaknya main keluar.


Sepupu saya yang datang dari Pekanbaru itu juga. Ia sama saja dengan anak Tante Rika. Selalu keluyuran. Pulang malam. Bahkan lima hari tidak pulang juga sering. Ia menikmati bergaul dengan teman-temannya yang ia katanya ditakuti banyak orang itu. Akh, bagi saya ditakuti banyak orang itu belum apa-apa. Saya tahu semenjak tinggal di rumah gadang sepupu saya dari Pekanbaru itu jadi berubah berandalan. Urakan.


Saya sering pulang dari sekolah saya dan menemukan kamar bujang berantakan ketika sampai di rumah gadang. Kaca nakonya dibiarkan mengaga, padahal hari sudah senja. Nyamuk-nyamuk pun berdenging keras ditelinga saya, seolah menambah kesal dihati ini. Dan kalau bukan tangan saya yang membeli dan memasang obat nyamuk untuk kamar bujang ini, maka nyamuk-nyamuk akan terus bersarang dan mendenging keras di kamar ini.



Saya lirik ketiga kasur kapuk yang sengaja diayakkan dilantai. Saya tahu kalau Sepupu saya yang dari Pekanbaru itu baru saja membawa teman-temannya yang urakkan itu ke kamar. Siapa juga yang akan menegurnya, Tante Rika? Tante Rika sibuk dengan cateringnya. Tak ada waktunya semenit atau sedetik saja sekadar mengurusi kamar bujang ini.
Akh, saya muak dengan semua ini.


Saya yakin sepupu saya itu membawa lebih dari lima orang temannya. Sehingga kamar yang padahal sempit ini jadi serba berantakan. Kain gordennya, pajangan kamarnya, sampai ke kasurnya. Tidak hanya kasur anak laki-laki Tante Rika atau kasur sepupu saya itu yang kusut dan berantakan. Tapi juga kasur saya. Terpaksa malam itu saya tidur diatus kasur yang telah diinjak-injak banyak orang. Di atas kasur yang seprainya hitam, kumal dan dekil. Uh, kepada siapa saya lepaskan amarah ini.



Saya juga menemukan puntung-puntung rokok di kamar bujang. Pasti sepupu saya dan teman-temannya itu yang merokok. Kalau bukan dia siapa lagi? Suami Tante Rika? Mana mungkin, ia pulang sekali sebulan karena mengurusi proyek diluar kota. Tidak hanya puntungnya yang membuat saya risih dan ingin marah, tapi bekas kepul asapnya menusuk hidung saya. Saya benci asap rokok yang mengelaba di kamar bujang ini. Saya benci dengan piring-piring kotor yang dibiarkan saja terayak sembarangan dilantai. Saya benci dengan raungan atau denging bunyi nyamuk yang lewat di kuping saya.



Saya sabarkan hati saya. Tak ada gunanya saya marah-marah. Lagian kalau saya boleh marah, kepada siapa coba? Saya selalu meredam emosi saya dan membuangnya jauh-jauh kalau hal yang membuat saya muak ini terulang kembali. Saya juga yang akhirnya membuang puntung-puntung rokok yang berserakkan dilantai kamar bujang. Saya juga yang akhirnya merapikan kamar bujang. Mencuci piring-piring kotor, merapikan seprai saya yang dibuat acak-acak dan kusut, sampai menutup kaca nako yang menganga. Padahal saya sudah capek, karena saya baru pulang dari sekolah.


***


Tante Rika memang orang sibuk. Ia tak punya waktu untuk berada dirumah. Ia selalu sibuk mengurusi bisnisnya. Saya tidak mempunyai banyak alasan untuk mengatakan bahwa saya ingin Tante Rika berada di rumah. Saya ingin Tante Rika mau tahu dengan rasa muak saya selama ini tentang catatan kehidupan saya di kamar bujang ini. Saya ingin membuat Tante Rika tahu bahwa yang selama ini menghabiskan sambal makanan malam bukan saya, tapi sepupu saya yang baru pulang dari Pekanbaru itu. Dia yang membawa kawan-kawannya yang urakkan dan berandalan itu ke rumah dan membuat kamar bujang jadi berantakan, membuat saya harus sabar membersihkan kamar bujang yang jadi berantakan. Belum lagi tentang piring kotor yang dibiarkan terayak sembarangan di kamar bujang. Saya juga membersihkannya.



Saya sudah mencoba untuk membiarkan saja piring itu tergelatak di depan kamar bujang berhari-hari. Saya biarkan berminggu-minggu, sampai-sampai piring kotor yang bergenang air diatasnya itu bercendawan. Saya pula yang menjadi jijik. Saya lakukan itu agar Tante Rika bahwa yang makan berpiring-piring itu bukan saya, tapi sepupu saya itu dan teman-temannya yang urakkan dan berandalan.


Tapi Tante Rika tak mau tahu. Ia tak hirau dengan ucapan saya. Tante Rika malah menuding saya sebagai anak yang paituang jariah. Saya diupat-umpatinya. Akh, saya muak menjadi serba salah seperti ini. Saya biarkan bukti piring kotor itu bahwa pertanda bukan saya yang makan berpiring-piring dan menghabiskan makanan sambal malam, saya juga kena marah. Saya bersihkan piring kotor itu, tuduhan bahwa saya anak yang rakus, makan berpiring-piring dan menghabiskan sambal malam, acap kali saya terima. Membuat panas kuping saya. Membuat saya ingin melepaskan semua amarah untuk marah. Akh, sudahlah.


***


Saya tahu Tante Rika itu pelit. Ia selalu tidak mau uangnya keluar untuk membersihkan rumah. Ia lebih rela mengeluarkan uang untuk laki-laki gundiknya daripada harus mengeluarkan uang untuk membeli sapu pel. Saya tahu lantai rumah gadang yang kini ditempati ini sudah dua tahun tidak pernah dipel. Saya tahu sekali lantai rumah gadang ini terakhir kali dipel dan bersihkan sebelum ibu saya masuk rumah sakit. Sebelum ibu saya meninggal dunia. Sebelum ayah saya pergi mencari istri baru dan meninggalkan saya.



Saya selalu menjalani hidup saya tanpa ibu dengan kata-kata yang selalu dingiang-ngiangkan ke telinga saya. Ibu selalu menginginkan saya menjadi anak yang tidak pernah menyerah. Ibu mengajarkan saya menjadi anak yang sabar. Ibu mengingkan saya menjadi anak yang cinta kebersihan. Ibu juga mengajarkan saya untuk belajar ikhlas melakukan apapun. Banyak yang diajarkan ibu kepada saya.


Beruntung saya orang yang hemat. Saya hidup dengan uang tabungan. Saya hidup karena kegigihan saya untuk meminta uang bulanan pada ayah dirumah istri barunya.
Sedangkan Tante tidak mau tahu. Tidak mau tahu bahwa kain gorden rumah gadang sudah kumal dan dekil. Tante Rika tak mau tahu bahwa kamar bujang sangat berantakan dan tak terurus. Tidak mau tahu bahwa lantai rumah sudah berdebu. Tapi satu yang ia tahu, bagaimana caranya untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya setelah ia menggadaikan berjam-jam waktu.
Hari ini saya memilih untuk libur sekolah. Sengaja saya bolos sekolah karena saya ingin membersihkan rumah. Rumah gadang yang atapnya banyak lawah. Dari pagi hingga hari menjelang sore kerja saya terus membersihakan rumah gadang. Saya ingin membereskan barang-barang yang terayak sembarangan agar rumah gadang tidak lagi mirip gudang. Saya ingin membuat Tante Rika tahu bahwa yang selama ini sering merapikan rumah bukan anak semata wayangnya itu, tapi saya.


Sebenarnya saya kesal dengan anak laki-laki semata wayang Tante Rika itu. Sudah jelas-jelas saya yang mencuci kain gorden, dia pula yang mengaku bahwa dialah yang telah mencucinya. Padahal saya mendengar pembicaraannya. Padahal sayalah yang sebenarnya yang mencuci, bukan anak Tante Rika. Ketika saya katakan bahwa saya mencuci kain gorden itu kepada Tante Rika, saya dikatakan cari muka oleh anaknya.



Saya merasa sangat capek hari ini. Di kamar bujang yang banyak sekali lawah diatas langit-langitnya sudah saya bersihkan pula. Lantainya saya pel. Kain gordennya saya cuci, debu tebal yang menempel dikaca nako saya bersihkan juga. Tanpa mengumpat-umpat sedikitpun saya bersihkan rumah gadang. Saya rela ketinggalan pelajar demi rumah gadang, demi kamar bujang.




Saya sapu lantai kamar bujang berkali-kali sampai lantainya tidak lagi kesat. Saya bersihkan semuanya. Termasuk mencuci piring-piring kotor yang bergenang air itu. Saya lakukan semua dengan ikhlas tanpa umpatan. Dengan tulus tanpa sedikitpun sumpah serapah.
Lalu saya mandi. Usai mandi saya terkejut bukan main. Saya melihat kamar bujang berantakan kembali. Kain seprai ranjang yang sudah saya rapikan dikusutkan oleh sepupu saya itu dan teman-temannya. Lantai yang sudah saya sapu berkali-kali jadi kotor kembali. Piring kotor yang baru saja saya cuci ada lagi.



Akh, saya tidak bisa lagi menahan emosi saya. Lalu saya ingat kata ibu.
***


Dua hari setelah ibu meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya saya sudah mengasingkan jawaban. Saya akan tahu saya akan dihadapkan pada dua pilihan. Benar yang saya pikirkan, ayah menemui saya. Lalu ia tanyakan pada saya apakah saya akan tetap tinggal di rumah gadang ini atau menetap bersama ayah dan istri barunya disebuah rumah kompleks?


Saya sudah mengasingkan sebuah jawaban. Tinggal di rumah gadang.
Saya punya banyak alasan kenapa saya memilih untuk tinggal di rumah gadang. Saya harus mempertahankan rumah gadang agar tidak diruntuhkan. Sebab semua anak nenek sudah kaya-kaya. Tak ada yang peduli dengan rumah gadang. Kecuali ibu saya. Sedangkan Tante Rika tinggal di rumah gadang ini hanya karena terpaksa. Sebuah kata-kata yang menusuk hati saya. Kata-kata yang sangat bertolak bekalang sekali dengan ibu saya.


Lalu beberapa bulan saya jalani tinggal di rumah gadang. Saya belajar membaca perangai. Perangai Tante Rika dan perangai anak semata wayangnya. Beberapa hari setelah itu saya mendapat kabar bahwa sepupu saya , keponakan Tante Rika juga, dari Pekanbaru akan tinggal di rumah gadang untuk sementara waktu. Maka bertambahlah satu bujang lagi sebagai penghuni baru kamar bujang.



***


Saya tidak tahu dengan cara apa saya menjelaskan kepada Tante Rika tentang obat nyamuk itu. Saya perlihatkan obat nyamuk yang saya pasangkan dikamar bujang, sama persis dengan apa yang disuruhnya. Katanya saya salah beli obat nyamuk sehingga membuat anaknya yang manja dan memuakkan saya itu menjadi batuk-batuk.


Saya malah bertambah bingung dengan masalah baru ini.
Saya akan berubah kesal ketika Tante Rika menyalahkan saya lagi. Bagi saya masalah ini memang tidak masuk akal untuk diperdebatkan.



Oleh karena kamar bujang ini kecilah makanya asap obat nyamuk yang saya pasang langsung membubung dan asapnya memenuhi seluruh kamar. Esok harinya Tante Rika menemukan anaknya yang sudah hampir tamat sekolah itu batuk-batuk.
Tante Rika marah besar kepada saya. Saya dimaki-makinya. Padahal saya sudah beri alasan dan penjelasan bahwa anaknya itu bukan batuk-batuk karena obat nyamuk yang salah pasang itu, tapi karena pengaruh teman-temannya.
Saya tidak tahu persis ini kali keberapa Tante Rika memarahi saya. Saya kena maki. Saya mendapat sumpah serapah. Lalu saya memilih kabur dari rumah. Untuk selama-lamanya, akh, entah!

***


Saya sedang bersembunyi di sebuah rumah. Dari rumah sini saya tahu bahwa Tante Rika sedang mengkhwatirkan saya. Saya bisa membaca bahwa Tante Rika sudah tahu sebenarnya kenapa anaknya itu sering batuk-batuk. Saya tahu bahwa beberapa hari yang lewat Tante Rika memergoki anaknya itu ternyata hobi merokok. Saya juga tahu bahwa Tante Rika sudah mendapat jawaban tentang sambal makan malam dan nasi yang habis mendadak itu bukan ulah saya. Sebab saya sudah tidak ada lagi di rumah gadang. Saya kira Tante Rika sudah tahu semuanya.
Sampai hari ini sudah lima bulan saya meninggalkan rumah gadang. Saya yakin kamar bujang akan semakin berdebu.

Padang, 29 Mei 2009 22;10 PM



(Cerpen ini dimuat di Singgalang Minggu, 02 Mei 2010)

Jumat, 15 Januari 2010

Mereka Yang Ber IQ tinggi

1.Leonardo da Vinci Universal Genius — Italy 220
2.Johann Wolfgang von Goethe — Germany 210
3.Gottfried Wilhelm von Leibniz — Germany 205
4.Emanuel Swedenborg — Sweden 205
5.William James Sidis — USA 200
6.Kim Ung-Yong — Korea 200
7.Thomas Wolsey Politician England 200
8.Hugo Grotius Writer Holland 200
9.Sir Francis Galton Scientist & doctor England 200
10.John Stuart Mill Universal Genius England 200
11.Christopher Langan Bouncer & scientist & philosopher
USA 195
12.Sarpi Councilor & theologian & historian Italy 195
13.George H. Choueiri A.C.E Leader Lebanon 195
14.Blaise Pascal Mathematician & religious philosopher France 195
15.Ludwig Wittgenstein Philosopher Austria 190
16.Phillipp Melanchthon Humanist & theologian Germany 190
17.PierreSimon de Laplace Astronomer & mathematician France 190
18.Philip Emeagwali Mathematician Nigeria 190
19.William Pitt (the Younger) Politician England 190
20.Voltaire Writer France 190

21.Albrecht von Haller Medical scientist Switzerland 190
22.George Berkeley Philosopher Ireland 190
23.Garry Kasparov Chess player Russia 190
24.Sir Isaac Newton Scientist England 190
25.Friedrich von Schelling Philosopher Germany 190
26.Arnauld Theologian France 190
27.Bobby Fischer Chess player USA 187
28.Marilyn vos Savant Writer USA 186
29.Galileo Galilei Physicist & astronomer & philosopher Italy 185
30.Joseph Louis Lagrange Mathematician & astronomer Italy/ France 185
31.Ren Descartes Mathematician & philosopher France 185
32.Lord Byron Poet & writer England 180
33.David Hume Philosopher & politician Scotland 180
34.John H. Sununu Chief of Staff for President Bush USA 180
35.James Woods Actor USA 180
36.Madame de Stael Novelist & philosopher France 180
37.Charles Dickens Writer England 180
38.Thomas Chatterton Poet & writer England 180
39.Alexander Pope Poet & writer England 180
40.Buonarroti Michelangelo Artist, poet & architect Italy 180
41.Benjamin Netanyahu Israeli Prime Minister Israel 180
42.Arne Beurling Mathematician Sweden 180
43.Baruch Spinoza Philosopher Holland 175
44.Johannes Kepler Mathematician, physicist & astronomer Germany 175
45.Immanuel Kant Philosopher Germany 175
46.Robert Byrne Chess Player Irland 170
47.Johann Strauss Composer Germany 170
48.Hypatia Philosopher & mathematician Alexandria 170
49.Richard Wagner Composer Germany 170
50.Andrew J. Wiles Mathematician England 170
51.Sofia Kovalevskaya Mathematician & writer Sweden/Russia 170
52.Dr David Livingstone Explorer & doctor Scotland 170
53.Donald Byrne Chess Player Irland 170
54.Martin Luther Theorist Germany 170
55.Judith Polgar Chess player Hungary 170
56.Plato Philosopher Greece 170
57.George Friedrich H?ndel Composer Germany 170
58.Raphael Artist Italy 170
59.Felix Mendelssohn Composer Germany 165
60.Truman Cloak — – 165
61.JohnLocke Philosopher England 165
62.Ludwig van Beethoven Composer Germany 165
63.Charles Darwin Naturalist England 165
64.Carl von Linn Botanist Sweden 165
65.Johann Sebastian Bach Composer Germany 165

66.James Watt Physicist & technician Scotland 165
67.Friedrich Hegel Philosopher Germany 165
68.Wolfgang Amadeus Mozart Composer Austria 165
69.Jola Sigmond Teacher Sweden 161
70.Dolph Lundgren Actor Sweden 160
71.Bill Gates CEO, Microsoft USA 160
72.Albert Einstein Physicist USA 160
73.George Eliot (Mary Ann Evans) Writer England 160
74.Paul Allen Microsoft cofounder USA 160
75.Nicolaus Copernicus Astronomer Poland 160
76.Joseph Haydn Composer Austria 160
77.Benjamin Franklin Writer, scientist & politician USA 160
78.James Cook Explorer England 160
79.Stephen W. Hawking Physicist England 160
80.Sir Clive Sinclair Inventor England 159
81.Honor de Balzac Writer France 155
82.Anthonis van Dyck Artist Belgium 155
83.Miguel de Cervantes Writer Spain 155
84.Ralph Waldo Emerson Writer USA 155
85.Rembrandt van Rijn Artist Holland 155
86.Jonathan Swift Writer & theologian England 155
87.Sharon Stone Actress USA 154
88.John Quincy Adams President USA 153
89.George Sand Writer France 150
90.Rousseau Writer France 150
91.Jayne Mansfield — USA 149
92.H. C. Anderson Writer Denmark 145
93.Bonaparte Napoleon Emperor France 145
94.Richard Nixon Ex-President USA 143
95.Hjalmar Schacht Nazi officer Germany 143
96.Adolf Hitler Nazi leader Germany 141
97.Shakira Singer Colombia 140
98.Hillary Clinton Ex-President wife USA 140
99.Geena Davis Actress USA 140
100.Jean M. Auel Writer Canada 140 (Disarikan dari berbagai sumber oleh Dodi Prananda)