Rabu, 20 Agustus 2008

CERPEN


SEPASANG MATA CINTA

Oleh Dodi Prananda

Kami hanya diam membisu. Tak ada kata. Tak ada bicara. Tak ada gumam. Tak ada suara di antara kami. Bukan karena kami belum saling kenal. Juga bukan karena kami masih lugu untuk berucap. Kami hanya butuh diam seperti ini.

Kami terhanyut dalam diam lirih. Mata sebelah memandang mataku. Kami saling tatap.Dia hanya tersenyum padaku. Aku balas tersenyum. Dia tertawa mungil. Aku juga. Setiap hal yang dia lakukan dapat di pastikan akan aku ulangi. Mungkin karena itu kami di beri julukan sepasang mata cinta.

“Kamu masih merasakan hangat malam ini?”Tanya mata sebelah.

“Tentu!. Kita bukankah sepasang mata yang tidak bisa di lepaskan dari satu pandangan!”begitu jawab mata sebelah.

Kami tersenyum kembali karena kami tahu malam ini punya kami. Kami, sepasang mata cinta.

Esok hari, mata sebelah mengekor di belakangku. Ia malu di lihat mata-mata yang lain. Kami mata yang masih sangat muda untuk mengenal cinta. Semalam kami juga berbisik pada bintang agar bintang bisa mendoakan kami untuk jadi sepasang mata. Ya, kami adalah sepasang mata yang tidak bisa di pisahkan.

***

Kami hanya diam membisu. Tak ada kata. Tak ada bicara. Tak ada gumam. Tak ada suara di antara kami. Bukan karena kami belum saling kenal. Juga bukan karena kami masih lugu untuk berucap. Kami hanya butuh diam seperti ini.

Dia hanya tersenyum padaku. Aku balas tersenyum. Dia tertawa mungil. Aku juga. Setiap hal yang dia lakukan dapat di pastikan akan aku ulangi. Mungkin karena itu kami di beri julukan sepasang mata cinta.

“Kamu masih merasakan hangat malam ini?”Tanya mata sebelah.

“Tentu!. Kita bukankah sepasang mata yang tidak bias di lepaskan dari satu pandangan!”begitu jawab mata sebelah.

Kami tersenyum kembali karena kami tahu malam ini punya kami. Kami, sepasang mata cinta.

Esok hari, mata sebelah mengekor di belakangku. Ia malu di lihat mata-mata yang lain. Kami mata yang masih sangat muda untuk mengenal cinta. Semalam kami juga berbisik pada bintang agar bintang bisa mendoakan kami utnk jadi sepasang mata. Ya, kami adalah sepasang mata yang tidak bisa di pisahkan.

***

Entah kenapa hari ini mata sebelah menangis. Ia hanya memperlihatkan air mungil yang jatuh dari matanya. Padahal kami hanya diam membisu. Tak ada kata. Tak ada bicara. Tak ada gumam. Tak ada suara di antara kami. Bukan karena kami belum saling kenal. Juga bukan karena kami masih lugu untuk berucap. Kami hanya butuh diam seperti ini.

Aku juga makin ragu. Aku tidak berkata kalau aku akan memutuskan cinta kita. Aku juga sudah mengatakan pada dia kalau kita adalah sepasang mata yang tidak bisa di pisahkan. Sepasang mata abadi.

“Bukankah kita tidak bisa di pisahkan? Lantas kenapa kamu masih saja menangis? Aku berjanji akan selaku menjadi mata di hatimu.

“Kau tahu kan, mata yang lain tidak suka melihat kita berdua, saling pandang tanpa kata-kata. Aku tak mau menjadi mata yang di mata-amati seperti ini”balas mata satu lagi.

Buram. Entahlah aku tidak tahu harus menjadi mata yang seperti apa. Aku sudah menjalanlan tugasku untuk menjadi mata yang abadi. Dengan dia si mata sebelah. Kami ragu. Hati kami kini mengabur.

Kami hanya diam membisu. Tak ada kata. Tak ada bicara. Tak ada gumam. Tak ada suara di antara kami. Bukan karena kami belum saling kenal. Juga bukan karena kami masih lugu untuk berucap. Kami hanya butuh diam seperti ini. Entahlah entah sampai kapan kami akan seperti ini, Kami hanya diam membisu. Tak ada kata. Tak ada bicara. Tak ada gumam. Tak ada suara di antara kami. Bukan karena kami belum saling kenal. Juga bukan karena kami masih lugu untuk berucap. Kami hanya butuh diam seperti ini. Sekian.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar