Kamis, 28 Mei 2009

CERPEN




Dilema Rena
Oleh Dodi Prananda

Rena meneruskan langkah tak berartinya dengan bantuan tongkat. Kebutaan yang di alaminya membuat ia harus meraba-raba ketika ia hendak berjalan. Terkadang ia harus merasakan sakitnya rasa sakit itu sendiri.
Setidaknya hanya lamunan yang terus mengusik pikirannya. Seolah kebutaan ini hal besar yang selalu mengganggu, benar-benar selalu berkecamuk di benaknya.. Rena kembali ke depan teras untuk menemani Iras yang telah menunggunya untuk menghadiri pesta yang telah di rencanakannya. Memang sebuah kenyataan yang pahit didapatkannya, ketika mengetahui seoerang yang buta seperti dirinya harus dating ke pesta, betapa susah dan merepotkan. Rena berjalan terbata .
“Kamu ini lelet banget sih, sungguh-sungguh merepotkan!”
Rena mengerenyitkan dahinya pada Iras, sebuah kalimat yang sebetulnya tak pantas diucapkan Iras, kekasihnya, atas keadaan dirinya .Ia tak mengerti.
Ia kembali berjalan gontai dalam hati yang gusar. Ia menghadap arah Iras, yang yang sedari tadinya termenung. Terpaku. Lamunannya pun buyar ketika Rena mendekat .Ia kalut, tak berkutik. Ia tak mampu mengobati rasa Rena yang entahlah.

. Andai saja Rena bisa melihat pasti ia akan tahu kalu Vena, adik Rena, menduai kakaknya. Perasaan Vena pada Iras lebih dari cinta Iras kepada Rena.Vena juga asik dengan tatapan beku dan sayunya. Sesekali ia terjaga dan balik memandang kepada Rena. Rena tak tahu semua kebohongan yang di alamatkan padanya. Rena meneruskan langkah-langkah kecilnya dengan bantuan tongkat yang selalu setia menemaninya.
Iras memanfaatkan kesempatan besar ini untuk menduakan Rena. Sebelum Rena kehilangan kornea matanya ia sampai bertekuk lutut untuk mendapatkan secuil cinta Rena untuknya. Begitu juga dengan adiknya menggunakan kesempatan ini agar dapat memiliki Iras, seolah menambah kemelut yang terus dipikul Rena.
“Ambil minum donk Ren, aku haus nih”
“…”
“Kamu nggak bisa, gimana mau jadi pendampingku nanti”
Rena sejenak terdiam. Ia tak mampu melepaskan cinta matinya pada Iras. Iras di anggapnya pria sempurna dan terbaik untuknya. Ia juga menganggap Iras adalah pengisi singgasana cintanya yang telah lama kosong.
Rena perempuan lemah yang patut di sayangi. Kecelakkan pesawatnya bulan lalu adalah mimpi terburuk yang pernah ia rasakan sepanjang usianya.
Rena buta total. Hari penuh kecerianya tak lagi terkuak. Hanya ada kelam, hitam yang betul-betul legam ketika ia memandang.
Ia berjalan meraba-raba dengan tongkatnya, mengambilkan sebotol minuman kaleng di dapur rumahnya. Rena masih memberikan bukti kalu ia masih sayang pada Iras. Sampai kapanpun. Mungkin sampai akhir hayatnya.
Di teras rumah, Vena mendekat ke pangkuan Iras. Dipandangnya lekat pria itu dan di dekapnya erat, kuat. Vena tak mau mengorbankan sedikit cinta Iras pada kakaknya.Vena benar-benar keterlaluan.
Saat Rena dapat memandang dunia, cinta Iras hanya untuk Rena. Bukanlah seorang Vena.Vena memandang kakaknya begitu lemah. Gadis buta yang serba menyusahkan. Ia memanfaatkan kesempatan besar ini untuk mendapatkan ketulusan cinta Iras padanya. Iras dan Vena sama-sama bajingan. Keduanya terdiam setelah Rena kembali.
Vena tak menghindar ketika Rena datang bersamaan waktu .Vena malah asyik duduk berduaan dengan Iras. Apapun yang dilakukannya pasti tak akan dapat di lihat oleh Rena, kakaknya.
“Kita putus, Ren!”
“Mengapa?
Sejenak hanya ada diam. Sepi. Sangat sepi. Tak ada kata yang mengalir.
“Kau benci setelah aku mengidap kebutaan ini, belakangan kau banyak kali berubah”
“……”
“Saat mataku masih normal kau ….”
“Memang, dahulu bukanlah sekarang .., dan jangan kau hubung-hubungkan antara dulu dengan sekarang..!”

Setetes air dari kelopak mata Rena jatuh begitu saja. Matanya berkaca-kaca. Barangkali nanti akan sembab.Vena tertawa geli melihat kakanya di sakiti begitu saja oleh Iras.
Seraya kemudian Rena beranjak menghapus laranya. Ia mencoba mengusirnya sendiri. Sejurus kemudian berlalu, Vena dan Iras menghilang dan hengkang dari rumah. Ia tak merasakan kepedihan yang tengah di rasakan Rena .Kepedihan yang di rasakan Rena yang sungguh lemah di leburkannya dengan keceriaan yang bercampur baur dengan kemesraan, dan tentang kesedihan Rena mereka tak rasakan, sedikitpun.
“Ven, kau tak kasihan pada Rena” ujar Iras pada Vena.
“Buat apa, bukankah saat saat ini yang kita tunggu”
Keduanya bersatu dalam satu rasa. Berpadu dalam pelukan mesranya berdua yang di seling tawa genit. Keduanya mampu tertawa dalam injakan kepedihan hati seorang Rena. Rena larut dalam tangis. Ia tengkurap di sofanya. Ia tak tahu kepada siapa ia membagi kelaraan hatinya. Ingatanya hanya pada Egi. Teman yang telah di kenalnya semenjak SMU dulu.
Ia meraih koper yang berada di sudut ruangan sedari tadinya. Ia memasukan pakaiannya sembarangan dan memijit angka telepon agar ia dapat terhubungi dengan Egi.
Ia berusaha meraba-raba angka pada telepan gagang. Dalam kehampaan rasa Rena berusaha tegar. Ia tak mau hancur dalam kepahitan rasa yang telah mati. Egi terhubungi. Keduanya meninggalkan Indonesia.

***
Rena mengisi hari-hari buramnya di USA bersama Egi. Tak mudah melalui waktu dua tahun di Amrik. Tak mudah menghapus duka dalam tempo waktu yang singkat, dua tahun itu waktu yang begitu singkat bagi Rena untuk menghapus luka. .Dengan waktu yang singkat itulah Rena melakukan perubahan dan memandirikan sifatnya yang selalu menyusahkan Vena dan Iras.
Ia telah kembali seperti dahulu. Ia telah pergi dari luka lama. Ia dapat menikmati kembali dunia. Dapat merasakan diri tidak lagi dilanda pahitnya sakit hati.Yang lebih tepatnya untuk sebuah pengkianatan rasa, cinta.
“Kita jadi balik ke Indonesia, Ren?”
“Tentu, aku akan meleburkan rasa pengkianatan ini”
“Kau yakin?”
“Ya …”
Rena menyatukan hasratnya untuk kembali ke Indonesia. Gadis itu ingin dapat kembali menatap muka seorang Iras. Rena begitu rindu pada Vena. Hanya dia seorang yang yang ia kenal secara akrab. Papa dan mamanya sibuk tak menentu di sana-sini tak lagi ia kenal. Semua bayangan vena mengiris batinya .Ia pernah bermimpi kalau Vena dalam keadaan yang menyakitkan, bahkan bias dibilang merasakan betapa pahitnya yang diarasakan Rena. Kembali pikirannya tertuju pada Vena.
Seolah-olah hanya ia yang dapat menenangkan kembali jiwanya yang terlupakan. Benih cinta dari Iras. Rena sungguh bodoh. Ia tak tahu kalau Vena lah penyebab dari berubahnya perasaan Iras yang sakit hati padanya.
Karena ialah, Vena, Iras menjadi bimbang dan memutuskan tali cinta itu. Tapi karena kebutaan itu telah menjadi bagian dari memori lama. Rena tidak akan pernah menguakannya kembali.
Bagian dari cerita yang tak akan pernah terkuakan(lagi). Tertimbun mati . Tatapanya sekarang kosong, mobil yang sedang dikemudi Egi menembus jantung kota Jakarta. Mata Rena sempat berkaca-kaca, namun sebuah kejadian ini membuatnya kehilangan akal sehatnya, betul-betul tidak bias diterimanya dengan akal sehat
Ia serasa pernah menjumpai lelaki itu. Bukan hanya menjumpai, akrab dan pernah memeluknya saat cinta bersemi kala itu. Saat cinta belum tersakiti. Saat cinta belum mengenal rasa pengkianatan.
Batin Rena bergejolak, terus berkecamuk. Jantungnya pun berdebar tak beraturan, darahnya mengalir cepat bagikan petir di siang hari. Tiba-tiba mobil itu berhenti tepat di depan sosok yang sejak tadinya telah dilirik rena dan egi .Egi terbata, tentu ia juga pernah kenal dan bercampur baur dengannya dalam sebuah ikatan persahabatan .Rena dan Egi terdiam kaku. Tak dapat seulas suara merespon apa yang telah di lihatnya. Seorang lelaki tak waras duduk, tertawa sendiri, di depan jalan. Sesekali pria gila itu menangis lalu tertawa kembali.
“Iras …..”

“ Kau masih sayang pada Iras, Ren?”
“……..”
Rena tak membalas pertanyaan itu. Bukannya tak sanggup, tapi lidahnya kelu mengucapkan kata iya, ataupun sebuah anggukan, ia tak bisa lakukan. Tapi Rena membalasnya dengan sebuah anggukan yang bertanda mengiyakan, ketika ia kuatkan dirinya untuk menggerakan kepalanya.
“Walau dalam pengkhianatan cinta,Ren?”
“Tentu!”
“Kau wanita terbaik yang pernah kutemui. Aku salut padamu. Seandainya Iras tak hadir mengisi relung hatimu, aku siap …”
“Buat apa?”
“Mencintaimu!”
“Sungguh ..”
“Aku ingin kau hadiahkan senyuman untukku, Ren hanya itu yang aku inginkan”
Senyum manis melingkar dan menyabit di sisi bibir Rena. Sebuah senyum yang manis. Senyuman itu bukan lagi milik pria tak waras itu. Ia kembali menatap pria gila itu sinis. Untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu mobilnya melaju meninggalkan jejak langkah sang penghkianat cinta.Untuk sebuah rasa yang tertinggal .

***
Dedaunan terbang ke sana-sini tak tau aturan . Sedangkan mobil yang tengah melaju itu berusaha menghapus jejak luka yang pernah di rasakan di kota mati ini .Di dalam mobil itu Rena menangis. Ia menghabiskan perjalanan hanya dengan tatapan kosongnya. Sejuta tanya belum terjawab. Seribu satu alasan menghadang. Egi tak mau membuyarkan lamunan Rena. Hanya sesekali melirik menahan rasa iba yang tengah dirasakan Vena.
“Sudahlah Ren, tak baik larut katanya kau berusaha tegar!”
“Andai aku dapat memilih, aku akan memilih buta walaupun di sakiti badai yang besar, dari pada dapat melihat yang tadi”
“Iras?”
“Ya”
“Masih banyak pria yang lebih baik darinya, kau lupa dengan Vena, bukankah kau kangen padanya?”
“Benar, aku ingin sekali mendekapnya”

Egi berhasil mengobati rasa Rena kali ini. Namun kesayuan mata Rena menahan tangis, menahan segelintir rasa menjuruskan Egi untuk menderai-beraikan kristal air mata. Menghancur leburkan rasa yang telah terpendam, mati. Kali ini Egi yang meneteskan cairan hangat di sudut matanya.
Tangis itu berhenti seketika dan berubah menjadi sebuah senyuman manis. Laju mobilnya akhirnya membawa mereka sampai pada tujuannya. Di rumah yang terakhir kalinya ia injak dan saksi putusnya ketulusan cinta mati Rena pada Iras. Berakhirnya rasa yang tak kunjung terobati.
Rena memandang.
Seolah-olah tak asing lagi dengan suasana yang semenjak dahulu telah di rasakannya. Sesekali angin sepoi bersemilir membasuh kepedihan rasa. Mata Rena tertuju pada pada gadis lajang usia yang tengah bermenung berpangku dalam tangis. Tngannya mengelus kandungannya yang tengah membesar.
Gadis itu serba lusuh. Rena begitu asing dengan wajah gadis itu. Rena mendekat padanya. Gadis itupun menatap Rena dan Egi dalam tatapan tak pernah kenal. Gadis itu adalah Vena yang sedang dicari Rena. mungkinkah dia Vena, seribu satu pertanyaan membaur, membuat pikiran Rena semakin digerayangi tentang itu.
“Siapa kalian? saya tak mengenal kalian!” suara gadis itu akrab sekali di telinga Rena. Mungkin karena wajah yang tak terurus itu membuat Rena tak mengenal saudaranya.
“Saya Rena …”
“…….”
Gadis itu mendekat, memandang memoroti Rena dari muka dan belakang. Perutnya yang besar membuatnya susah berdiri sigap.
“Rena kakak Vena! Rena yang dulunya buta?”
”Benar!”
Suasana hening bercampur menyatu dengan tangis dan haru dalam rona kesedihan. Gadis itu memeluk Rena lekat. Mendekap Rena dalam kerinduaan. Egi menatap heran. Rena susah menahan tubuh karena pelukan yang di berikan gadis itu sungguh dekap seperti seseorang yang telah lama tidak bertemu dengan rekannya. Rena juga turut merasakan rindunya terhapus sudah.
“Aku Vena kak”
“Sungguh?”
“Iya”
“……”
Suasana mengganda antara tangis dan haru. Vena membawa dua manusia itu ke dalam rumahnya.
“Kau hamil, Ren?”
“Iya, Iras!”
“Mengapa?”.
”Maafkan aku kak, aku menduai kakak dahulu. Saat kakak tak bisa melihat Iras, Iras tak mau mempertanggunggjawabinya. Ia gila sekarang. Semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kebakaran ia langsung depresi ...”
“Kau yang membuat Iras bimbang padaku..” omongan Rena terputus. Ia memang tak bernyali untuk menyambung kata-katanya, terlalu sukar ia menggerakan mulutnya.
Egi terkesima. Sedangkan Rena berusaha tegar kembali. Rena kembali kental dalam rasa yang luka mendalam. Rena tak kuat menahan asa yang membara. Dalam kehampaan rasa inilah sosok Egi di butuhkannya. Lambat laun setelah semua konflik sirna Rena ingin jalani hidupnnya dengan Egi selamanya. Menimbun sejuta rasa yang takan pernah mati. Ia ingin selalu dengan Egi. Sampai akhir hayatnya.
Lalu tiba-tiba Rena menangis. Kemudian tertawa kecil, jelas sekali tawa yang sangat dipaksakan.
2007-2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar