Jumat, 20 Maret 2009

DIMENSI CERPEN

Pak Kumis
Oleh Dodi Prananda


Didekat rumahku ada seorang bapak tua yang bernama Pak Kumis. Kata orang-orang bapak kumis itu orangnya sangat benci terhadap anak kecil. Kalau ada anak kecil yang bertemu dengan Pak Kumis pasti anak itu akan menangis. Pak kumis pasti akan melototkan matanya dan menakut-nakutkan anak kecil itu degan kumis hitam lebatnya.
Aku sebenarnya takut dengan Pak Kumis. Melihat wajahnya yang amat menyeramkan, melihat kumisnya yang membuat anak-anak menjadi takut. Apalagi melihat rumahnya yang banyak debu, kecoak dan laba-laba. Pak kumis memang tidak suka bersih. Sehingga rumput-rumput dan ilalang yang tumbuh di depan rumahnya menjadi perlahan-lahan panjang hingga akhirnya menutup rumah Pak Kumis.
“Bu, kenapa Pak Kumis itu tidak pernah bicara dengan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya?” tanyaku suatu hari pada Ibu.
“Siapa bilang? Pak kumis itu sebenarnya orang yang baik, Cuma orang-orang yang tinggal di sekitar tempat tinggal Pak Kumis itu saja yang menganggap Pak Kumis orang gila dan menakutkan,” balas Ibu.
Aku masih saja tidak percaya dengan perkataan ibu, kalau Pak Kumis memang orang baik kenapa semua teman-temanku takut kepadanya. Belum lagi anak-anak kecil yang menangis dan ketakutan ketika melihat Pak Kumis. Akh, aku sebaiknya menyelidiki bagaimana Pak Kumis sebenarnya.
Dan siang itu sepulang sekolah aku pulang dengan sangat tergesa-gesa. Aku berlari seperti orang ketakutan menuju rumah. Bukan Pak Kumis yang mengejarku, tapi aku tidak tahann ingin buang air kecil. Aku terus berlari-lari hingga akhirnya aku sampai di depan rumah Pak Kumis. Kulihat Pak Kumis berdiri di depan rumahnya. Sebenarnya aku tidak berani menegur Pak Kumis, tapi berhubung aku sudah tida tahan ingin buang air kecil terpaksa aku menggerakan mulutku untuk bicara.
“Pak, Pak Kumis, saya boleh tidak numpang buang air kecil di rumah Bapak!” ucapku tanpa pikir panjang. Kalau aku meneruskan berlari sampai ke rumah aku tidak tahan untuk buang air secepatnya.
Pak Kumis tidak menjawab. Sepertinya ia marah karena selama ini aku dan teman-teman yang lain sering mengejeknya dengan orang gila dan orang aneh. Aku menjadi takut, betul-betul sangat takut. Ingin rasanya aku kencing pada saat-saat ini. Apalagi ketika Pak Kumis mendekat kearahku. Ia menyentuh pundakku. Aku gemeter. Namun alangkah terkejutnya aku ketika sebelumnya aku membayangkan Pak Kumis akan memarahiku, ternyata tidak. Pak Kumis menggendongku dan membawaku masuk kedalam rumahnya. Dibawanya aku ke kamar mandinya. Lalu ia biarkan aku sendiri di kamar mandinya. Aku lega sekali ternyata Pak Kumis tidak seperti yang aku bayangkan, sungguh benar ucap ibu yang mengatakan bahwa Pak Kumis itu baik.
Setelah aku buang air kecil di kamar mandi Pak Kumis, aku segera mencari Pak Kumis. Rupanya ia sudah menunggu aku di ruang tamunya. Ia tampak ingin memperlihatkan sesuatu kepadaku. Benar, ia memperlihatkan padaku sebuah album yang ada foto istrinya dan anak Pak Kumis yang sudah meninggal. Aku turut sedih.
Sebelum aku melangkah untuk pulang Pak Kumis menitipkan sesuatu untuk ibuku. Satu kantong plastic buah jambu yang berwarna merah. Semenjak kejadian itu aku jadi sering mampir dan main ke rumah Pak Kumis. Teman-temanku jadi banyak yang bingung kenapa aku sekarang akrab dengan Pak Kumis. Tarandam, 2009
Penulis cerita anak Tinggal di Padang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar